<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5441675162408452479</id><updated>2012-02-15T23:09:49.139-08:00</updated><category term='Puisi'/><category term='Surabaya'/><category term='Esai'/><category term='Cerpen'/><category term='Kediri'/><category term='Catatan'/><category term='Forum Sastra Lamongan'/><category term='Haris del Hakim'/><title type='text'>Haris del Hakim</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Haris Abdul Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11211340568889812710</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-PM2xzdR8dq0/ToBnmZOkboI/AAAAAAAAAGM/YrqTu-r-6GA/s220/Haril%2BDel%2BHakim.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>14</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5441675162408452479.post-8811966268767022786</id><published>2011-09-26T05:27:00.000-07:00</published><updated>2011-09-26T05:29:25.167-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Haris del Hakim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>MEREKA TIDAK HARUS MATI</title><content type='html'>Haris del Hakim&lt;br /&gt;http://sastragerilyawan.blogspot.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kastumiun menambatkan perahu di batang trembesi sebesar lengan, menjejakkan kaki di bibir perahu, melompat ke atas pematang tambak, melihat tambak yang berair keruh dan ikan-ikan bandeng timbul tenggelam; sesekali bagian perut ke atas, berusaha menyelam lagi, timbul lagi. Ikan-ikan dalam keadaan seperti itu memenuhi separuh permukaan tambak.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki berumur setengah baya itu melompat ke tambak, tanpa melepas baju atau celana seperti yang dilakukannya saat menabur pupuk urea untuk menghijaukan air, dan merabai tanah. Tangannya berkali-kali menyentuh ikan-ikan yang mati. Kemudian dia mentas ke pematang dan melompat lagi ke perahu. Setelah melepas ikatan tali di pohon trembesi, dia mengayuh perahu itu cepat-cepat. Dia hanya menoleh sebentar pada tambaknya yang ada di sebelah kiri kali desa dan mendayung kembali. Dari kejauhan dia melihat anak sulungnya sedang mengayuh sepeda dengan boncengan kosong belum mengangkut rumput sama sekali. Dia memanggilnya dan anak berumur limabelas tahun itu pun mendekat dan bertanya, “Ada apa, Pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cepat panggil Paman Sartono dan Kak Muji. Katakan ikan di tambak timur kali sedang mati,” kata Kastumiun.&lt;br /&gt;“Bapak mau ke mana?”&lt;br /&gt;“Ambil keranjang,” jawab Kastumiun seraya mendayung perahunya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu jam kemudian empat orang sedang menyelami tambak Kastumiun. Mereka mengambil ikan-ikan yang mati. Ikan-ikan bandeng itu masih terhitung kecil, 1 kg berisi 10 ekor, walaupun sudah dipelihara selama lima bulan lebih. Tetapi, daripada harus membiarkannya mati lebih baik dipanen sekadar cukup untuk menutupi biaya pengairan dan beli pupuk; meskipun penghasilan mereka hanya ¼ dari semua biaya itu sudah terhitung lumayan daripada rugi total.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pupuknya pasti telat,” tebak Sartono yang berkumis tebal. Caping hitamnya hampir basah oleh air.&lt;br /&gt;“Mestinya sepuluh hari lalu ditaburi,” jawab Kastumiun. “Tapi, tidak ada yang punya pupuk sekarang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku kemarin dapat satu zak,” sela Muji sambil melemparkan ikan bandeng ke dalam keranjang. “Itu pun belum cukup untuk tiga petak tambakku.”&lt;br /&gt;“Berapa harganya?” tanya Sartono.&lt;br /&gt;“Dua kalilipat dari harga biasa,” jawab Muji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namaku sudah terdaftar di toko Hasri, tetapi stoknya belum datang. Katanya seminggu lagi, padahal tambak yang satu sudah seminggu tidak disebari pupuk,” jelas Kastumiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa terasa matahari sudah bergerak ke arah barat. Istri Kastumiun datang membawa kiriman makanan dan minuman sekadarnya. Dia menyuruh semua orang berhenti sejenak, “Makan dulu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat orang di dalam tambak itu menjawab hampir secara bersamaan, “Sebentar lagi!”&lt;br /&gt;Mereka telah menyisir hampir separuh luas tambak dan masih ada separuh lagi. Sartono berdiri, melihat ikan di keranjang, dan mengajak keponakannya—anak sulung Kastumiun—untuk membantu mengangkat keranjang ke pematang dekat kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Istirahat dulu, Ji,” kata Kastumiun.&lt;br /&gt;Panen dini itu selesai ketika matahari sudah lengser ke barat. Pembeli ikan sudah datang sejam lalu sambil membawa timbangan dan colt bak terbuka. Orang-orang bersicepat menimbang ikan-ikan dalam keranjang. Mereka harus sampai di gudang pabrik sebelum matahari tenggelam, kata pembeli ikan itu makin membuat Kastumiun dan kerabat yang membantunya tergesa-gesa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembeli ikan mengulurkan kertas nota hasil panen dini kepada Kastumiun. Lelaki berpandangan sayu itu mencermati angka yang tertulis dalam kertas itu. Dia hanya menjawab sekadar saja ketika pembeli ikan berangkat mengangkut ikannya. Istrinya yang sudah mengemasi wadah makanan dan minuman kemudian memanggulnya di punggung bertanya lirih, “Dapat berapa, Pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lumayan,” jawab Kastumiun kalem. “Cukup untuk beli pupuk urea sekali tanam lagi. Tentu saja kalau harga ikan kita tidak turun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Kastumiun memandang suaminya yang berkulit coklat kehitaman karena terbakar matahari sepanjang hari. Dia kembali bertanya, “Benih ikannya dulu sudah dibayar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kastumiun terbelalak memandang istrinya. Dia baru ingat kalau benih ikannya dulu belum dibayar dan masih hutang di pembenihan Haji Saman.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu Kastumiun berada di toko Hasri. Dia mendengar kabar kalau hari ini stok pupuk akan turun dan dia tidak mau ketinggalan lagi. Tiga hari lagi dia tidak mendapatkan pupuk, ikan-ikan di tambak satunya tidak mustahil akan menyusul untuk dipanen dini. Meskipun usia ikan di sana sudah waktunya panen, tetapi Kastumiun masih enggan untuk mengambilnya karena beratnya belum layak untuk diambil; lima atau enam tahun lalu Kastumiun dapat memanen ikannya tiga bulan sekali, tetapi saat ini mereka tidak bisa banyak berharap dengan waktu tiga bulan, sebab hingga berumur enam bulan pun ikan-ikan tidak bertambah besar, matanya saja yang kian lebar dengan ekor yang mekar tanpa ada perkembangan berat pada tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Kastum,” teriak Hasri pemilik toko sarana pertanian itu. “Sedang kaya baru panen?”&lt;br /&gt;“Ya,” gurau Kastumiun sambil mendekat. “Katanya hari ini pupuk akan dikirim?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katanya seperti itu, tetapi sampai sekarang belum juga datang. Pak Kastum sudah daftar?”&lt;br /&gt;“Sudah. Sudah dua minggu lalu aku mendaftar minta jatah pupuk. Katanya, seminggu lalu ada yang turun, tetapi aku kok tidak dapat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang jatahnya hanya sedikit, Pak. Tapi sebentar,” kata pemilik toko. Dia mengambil buku tulis tebal yang tersimpan dalam rak. “Hutang Pak Kastum di sini lima zak pupuk urea dan setinting waring. Nah, Pak Kastum kan sudah panen, bagaimana kalau dibayar dulu yang lima zak nanti baru mengambil lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hasil penjualan kemarin belum dibayar. Sartono dan Muji saja belum saya beri uang rokok.”&lt;br /&gt;“Kalau Pak Kastum belum bayar, aku belum bisa mengasih pupuk lagi?”&lt;br /&gt;“Berarti sudah ada pupuknya kalau begitu?”&lt;br /&gt;“Belum datang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katanya kalau aku membayar akan diberi pupuk lagi, berarti sudah ada pupuknya?!”&lt;br /&gt;“Pak Kastum sendiri tahu pupuknya belum datang,” kata pemilik toko Hasri dengan galak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kastumiun mengerutkan kening. Dia tidak bisa mengandalkan toko-toko lain, karena meskipun harganya murah tetapi harga di sana akan berlipat setiap bulannya. Dengan nada kalem Kastumiun bicara lagi, “Pembeli ikanku kan saudaramu sendiri. Kamu minta saja padanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilik toko yang berbadan tambun dan berperawakan tinggi itu berkata lirih, “Tidak mungkin, Pak Kastum. Meskipun kami berdua saudara, tetapi ini persoalan bisnis dan bukan masalah keluarga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kamu tidak percaya kalau aku pasti membayarnya?”&lt;br /&gt;“Bukan percaya atau tidak, tetapi semua orang berhutang. Coba Pak Kastum hitung sendiri. Penduduk sini yang berhutang duapuluh orang. Masing-masing mempunyai hutang pupuk lima zak. Berarti saya menanggung seratus zak. Semua orang mengatakan akan membayar kalau sudah panen, tetapi panen mereka tidak ada yang memuaskan hasilnya. Katanya tiga bulan, tetapi panennya menjadi enam bulan dan bahkan ada yang setahun. Mereka yang rugi, tetapi mengapa saya juga harus rugi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita juga tidak ingin rugi, Has,” kata Kastum berat.&lt;br /&gt;“Rugi sih tidak apa-apa, tetapi jangan banyak-banyak seperti itu biar kita tidak bangkrut,” kata pemilik toko Hasri dengan nada enggan bicara lagi.&lt;br /&gt;“Hari ini aku mendapat jatah pupuk atau tidak? Kalau tidak ikanku bisa mati lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Kastum masih lumayan hanya ikan yang mati, tetapi saya bisa ditinggal mati oleh anak dan istri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kastumiun diam bukan karena memahami keadaan pemilik toko Hasri itu, tetapi keadaannya yang tersudut pada satu pilihan untuk mendatangi rumah pembeli ikannya. Dia bergegas memacu sepeda ontel-nya. Ada yang mengganjal di hati. Tidak biasa dia menagih hasil penjualan ikannya, sebab pembeli ikan itu akan datang sendiri ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu tiba di tempat tujuannya beberapa menit saja. Ia bertanya pada anak kecil yang asik bermain di halaman rumah. “Bapakmu di rumah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak itu tidak menjawab. Dia meninggalkan semua mainan dan masuk ke dalam rumah. Tidak berapa lama kemudian anak itu kembali dan mengatakan kalau bapaknya sedang bepergian dan belum datang.&lt;br /&gt;“Ibumu di rumah?”&lt;br /&gt;Anak itu mengangguk.&lt;br /&gt;“Coba panggilkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak kecil itu pun kembali masuk ke dalam. Kemudian dia kembali lagi dan meneruskan permainan setelah menjawab disuruh menunggu. Seorang perempuan separuh baya keluar dan mempersilakan Kastumiun masuk dan duduk. Mereka berbasa-basi sebentar. Tuan rumah masuk ke dalam dan Kastumiun mencegah dengan alasan hanya sebentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya hendak menanyakan uang hasil penjualan ikan kemarin,” kata Kastumiun dengan nada datar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, persoalan itu,” jawab istri pembeli ikan dengan nada keras membuat Kastumiun berbunga, sebab perempuan itu pasti dititipi sesuatu. “Kata suami saya, sebagian diminta oleh Haji Saman pemilik benih. Katanya, Pak Kastum punya hutang benih di sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya,” jawab Kastumiun tersedak. “Berarti aku sudah tidak punya hutang ke Haji Saman?”&lt;br /&gt;“Saya tidak tahu apakah sudah lunas belum.”&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan sisa hasil penjualannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kata suami saya, baru separuh yang dibayarkan oleh pemilik gudang dan separuh lagi menunggu dia ke gudang lagi.”&lt;br /&gt;“Kapan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tidak tahu.”&lt;br /&gt;“Tapi, suamimu mengatakan berapa harga ikannya?”&lt;br /&gt;“Yang jelas murah sekali, sebab ikan Pak Kastum dipanen dini.”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini hari kesepuluh sejak Kastumiun menebarkan pupuk urea ke tambak sebelah barat kali. Dia bisa membayangkan betapa keruh airnya dan lemah ikan-ikan bandengnya. Karena itu, sengaja dia tidak pergi ke tambak pagi-pagi. Kedatangannya tidak lebih untuk memastikan bahwa ikannya tidak mati dan dia bisa menunda hingga siang hari. Makanya dia cekatan memecahkan batang-batang kayu trembesi ketika istrinya mengeluh tidak punya kayu bakar lagi. Anak sulungnya sudah berangkat ke sawah mencari rumput bagi lima ekor kambingnya, sedangkan ketiga anak lain sudah berangkat ke sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapak besar itu mengayun berkali-kali dan memecahkan gelondong kayu. Keringat membasahi kaos Kastumiun. Dia hanya melengok sebentar ketika anak sulungnya sudah pulang dengan rumput di boncengan sepeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ikan kita mati lagi,” kata putra sulungnya menuju kandang di belakang rumah, “kambing kita juga.”***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;november 2006&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://sastra-indonesia.com/2009/01/mereka-tidak-harus-mati/"&gt;http://sastra-indonesia.com/2009/01/mereka-tidak-harus-mati/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5441675162408452479-8811966268767022786?l=haris-delhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/feeds/8811966268767022786/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5441675162408452479&amp;postID=8811966268767022786&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/8811966268767022786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/8811966268767022786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/2011/09/mereka-tidak-harus-mati.html' title='MEREKA TIDAK HARUS MATI'/><author><name>Haris Abdul Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11211340568889812710</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-PM2xzdR8dq0/ToBnmZOkboI/AAAAAAAAAGM/YrqTu-r-6GA/s220/Haril%2BDel%2BHakim.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5441675162408452479.post-6235247732361463490</id><published>2008-11-28T06:57:00.000-08:00</published><updated>2011-09-26T05:18:44.282-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Haris del Hakim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Forum Sastra Lamongan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>MUHAMMAD DI TIMUR DAN BARAT</title><content type='html'>Haris del Hakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang muslim, Muhammad dengan agama Islam adalah nabi dan penyelamat di dunia dan akhirat. Karena itu, menodai citra Muhammad adalah menodai agama mereka. Terlepas dari itu, fenomena penodaan citra Muhammad ternyata bukan hal baru. Dunia Barat mengenal Muhammad jauh berbeda dengan Muhammad yang dikenal oleh dunia Timur. Contoh citra Muhammad ada dalam karya Dante, The Divine Comedy.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad, yang disebut sebagai “Maometto”, muncul dalam canto (bagian dari suatu syair) 28 inferno. Muhammad berada pada lapisan ke sembilan dari sepuluh lapisan Bolgias of Malebolge, gugusan parit kelam yang mengelilingi kubu setan di neraka. Sebelum lapisan ke sembilan yang dihuni oleh Muhammad, terlebih dahulu Dante menjelaskan lapisan sebelumnya yang dihuni oleh para pendosa dengan dosanya yang lebih ringan, seperti: tukang cabul, orang tamak, orang rakus, pembuat bidah, pembuat onar dan angkara murka, orang yang membunuh diri, dan orang kufur (penghina Tuhan). Lapisan setelah Muhammad dihuni oleh para pemalsu dan pengkhianat, di antaranya: Judas pengkhianat Yesus, Brutus dan Casius pengkhianat Yulius Caesar. Setelah itu sampailah pada lapisan dasar neraka di mana setan sendiri berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Muhammad termasuk dalam hirarki kejahatan yang berat. Dante menyebutnya sebagai semonator di scandalo e di scisma (penyebar skandal dan perpecahan). Hukuman terhadap Muhammad, yang merupakan siksaan abadinya, adalah hukuman yang sangat menjijikkan. Tubuhnya terus-menerus dibelah menjadi dua mulai dari dagu hingga ke anus, bagaikan, kata Dante, tong kayu yang papan-papannya dirobek. Pada bagian ini Dante menguraikan detil-detil eskatologis yang tercakup dalam hukuman tersebut: isi perut dan najis Muhammad digambarkan secara jelas. Muhammad menerangkan kepada Dante mengenai hukuman yang menimpanya, sambil menunjuk kepada Ali, yang juga berada dalam barisan para pendosa yang disiksa dengan dibelah tubuhnya oleh malaikat penyiksa. Ia juga meminta kepada Dante untuk memperingatkan seorang bernama Fra Dolcino, pendeta murtad yang sektenya menganjurkan komunalitas wanita dan harta benda, akan siksaan yang menimpanya. Docino sendiri merupakan pemimpin sekte pada masa Dante yang sedang melonjak debut teologinya. (Edward W. Said, Orientalism).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, karya Dante tersebut terinspirasi oleh Risalah al-Ghufran, karya al-Ma’ari. Al-Ma’ari yang muslim menggambarkan bagaimana tokoh, bernama Ghufran, masuk surga dan ingin bertemu dengan para penyair di sana. Dia meminta penjelasan tentang makna kata-kata absurd dalam puisi kepada penyairnya langsung. Karya tersebut juga mengilhami Muhammad Iqbal, penyair dan pendiri negara Pakistan, untuk menulis Javidnamah; setelah dia membaca karya Dante. Citra Muhammad dalam Javidnamah dapat mewakili pandangan dunia Timur tentang Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iqbal menjelaskan tokoh utama masuk ke orbit Jupiter dan bertemu dengan Hallaj, sufi yang dihukum mati karena ajarannya yang dianggap subversif. Tokoh menanyakan misteri-misteri Muhammad dan Hallaj menjawabnya secara filosofis dan idealis dalam bentuk puisi panjang: sebab ia itu manusia, sekaligus zat / /zatnya bukan Arab, bukan Persia / dia manusia, namun sebelum adam / “Hamba-Nya” penulis nasib / di dalam dirinya ada perbaikan keporak-porandaan / “Hamba-Nya” pemberi ruh, sekaligus pengambil ruh / “Hamba-Nya” kaca sekaligus batu keras / “Hamba” itu sesuatu, dan “Hamba-Nya” sesuatu yang lain lagi – / /kita semua menanti; dialah yang dinanti-nantikan / “Hamba-Nya”tak berawal, tak berakhir / “Hamba-Nya” – dimana baginya pagi dan petang? / Tak seorang pun tahu rahasia-rahasia “Hamba-Nya”— / “Hamba-Nya” tak lain adalah rahasia “kecuali Allah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Citra Muhammad di Barat tidak lebih seorang psikopat yang mengilhami umatnya menjadi teroris di abad ini, terlepas dari berbagai persoalan sosial-budaya-ekonomi-politik yang lebih rumit. Lebih-lebih para pelaku kekerasan, yang disebut sebagai teroris itu, lebih sering menggunakan label agama Islam sebagai perisai pembelaan. Sehingga, lengkap citra Muhammad di dunia Barat seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja hal itu sangat berseberangan dengan citra Muhammad di dunia Timur. Dunia Timur memiliki argumentasi, “Kalau seorang psikopat mampu memberikan arah segar kepada jalannya sejarah manusia, ini merupakan satu hal yang sangat menarik minat psikologi untuk menyelidiki pengalamannya yang sebenarnya yang telah mengubah budak-budak menjadi pemimpin-pemimpin manusia dan yang telah mengilhami perilaku dan membentuk perjalanan hidup seluruh ras manusia. Menilai dari berbagai aktivitas yang memancar dari gerakan yang dilancarkan oleh nabi, ketegangan spiritual danperilaku yang muncul darinya tak dapat dipandang sebagai suatu tanggapan terhadap semata-mata fantasi di dalam otaknya. Tak mungkin untuk memahaminya kecuali sebagai tanggapan terhadap situasi obyektif yang melahirkan antusiasme-antusiasme baru, tatanan-tatanan baru, titik-titik tolak baru. Jika kita lihat masalahnya dari sudut pandang antropologi, tampaklah bahwa seorang psikopat merupakan faktor penting dalam ekonomi organisasi manusia.” (Muhammad Iqbal, Metafisika Persia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi dunia Timur dan kaum muslim khususnya, Muhammad merupakan harga diri. Dia adalah penggerak lahirnya kebesaran Islam yang menguasai dunia selama 700 tahun. Sejak Muhammad meninggal dunia pada tahun 632, kekuasaan secara militer yang disusul dengan kebudayaan dan keagamaan Islam berkembang sangat pesat. Pada mulanya Persia yang megah itu dapat ditaklukkan, Syria dan Mesir, lalu Turki kemudian Afrika Utara pun jatuh ke tangan orang muslim. Pada abad kedelapan dan sembilan Spanyol, Sisylia, dan negara bagian Prancis pun ditaklukkan. Abad ketiga belas dan keempat belas, Islam hampir berkuasa sampai ke India, Indonesia, dan China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencitraan Muhammad sebagai orang gila, dukun, penyair, merupakan citra yang memiliki akar sejak zaman Jahiliyah pada zaman Nabi Muhammad sendiri. Ketika itu para pemuka Qurais, yang dipimpin oleh Abu Jahal, merasa kehilangan pengaruh hegemoninya atas dunia arab. Agama baru yang dibawa oleh Muhammad secara perlahan-lahan, namun pasti, menggerogoti kekuasaan mereka. Sebagai pertahanan kekuasaan atas perlawanan Muhammad dan pengikutnya yang sebagian besar dari kalangan budak, para penguasa Qurais berkolaborasi dengan ahli kitab yang haus kekuasaan memberikan karakter yang negatif terhadap Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tanggapan atas hal itu, kitab suci orang Islam menjelaskan karakter Abu Jahal atau Abu Lahab sebagai orang yang binasa kedua tangannya, yaitu sia-sia dan tidak berguna semua harta kekayaan dan perbuatannya (QS. al-Lahab: 111). Sedangkan bantahan terhadap ahli kitab, alih-alih memburuk-burukkan justru penjelasan yang proporsional mengenai sejarah agama mereka. Tokoh kunci, seperti Musa, Ibrahim, Israil, Dzulkifli (yang diasosiasikan dengan Sidharta Gautama), Isa, dikukuhkan sebagai nabi orang Islam. Apabila semua itu tidak juga memberikan pemahaman baru tentang Muhammad dan agama yang dibawanya, maka jalan kaluarnya adalah menunggu waktu siapa di antara mereka yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5441675162408452479-6235247732361463490?l=haris-delhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/feeds/6235247732361463490/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5441675162408452479&amp;postID=6235247732361463490&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/6235247732361463490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/6235247732361463490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/2008/11/muhammad-di-timur-dan-barat_28.html' title='MUHAMMAD DI TIMUR DAN BARAT'/><author><name>Haris Abdul Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11211340568889812710</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-PM2xzdR8dq0/ToBnmZOkboI/AAAAAAAAAGM/YrqTu-r-6GA/s220/Haril%2BDel%2BHakim.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5441675162408452479.post-9067387227691322410</id><published>2008-11-28T06:53:00.001-08:00</published><updated>2011-09-26T05:17:35.857-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Haris del Hakim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Forum Sastra Lamongan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>NGALOR-NGIDUL TENTANG KEBUDAYAAN1</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Bukan berarti kita tidak perlu mampir ke Barat atau Timur)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Haris del Hakim &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Corak budaya satu warna yang bertaraf nasional yang mengiringi kekuasaan Orde Baru ternyata mempunyai imbas yang signifikan terhadap tradisi dan budaya yang bercorak kedaerahan. Kisah-kisah, kearifan, ataupun dongeng asal-usul suatu daerah menjadi tertepiskan oleh jargon-jargon yang mendukung pembangunan nasional, sebagaimana dicanangkan oleh masa pemerintahan Presiden Soeharto. Contoh paling gampang adalah pudarnya kekuatan baureksa sebagai penguasa di suatu daerah.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi tersebut mengakibatkan generasi yang lahir setelah itu “kehilangan” akar tradisi. Duapuluh tahun setelah berdirinya Orde Baru muncul fenomena generasi muda yang tidak memperhatikan nilai-nilai kearifan lokal, sehingga sering terdengar istilah “malin kundang si anak hilang yang durhaka terhadap ibunda kampung halaman”. Gelombang reformasi yang turut menghembuskan otonomi daerah seakan menyentak kesadaran akan hilangnya nilai-nilai kedaerahan tersebut, tidak terkecuali di daerah Lamongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah-kisah, warisan budaya, dan kearifan lokal, sebagai kekayaan dan sumber kebanggaan bagi generasi muda akan kedaerahannya menjadi niscaya untuk digali kembali. Kisah Panji Laras dan Panji Liris, misalnya, merupakan salah satu kekayaan daerah Lamongan yang perlahan mulai dilupakan atau tidak dipahami secara baik oleh generasi muda. Kisah yang melahirkan tradisi pinangan oleh pihak perempuan kepada pihak laki-laki menyamarkan motif-motif dan tanpa disadari termasuk salah satu faktor pendukung patriarki secara kasar, tanpa pemahaman yang matang terhadap akar persoalan. Padahal, kisah tersebut merupakan tafsir masyarakat terhadap apa saja yang membuat kaum laki-laki lebih tinggi dari kaum perempuan.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata “kebudayaan” berasal dari kata Sansekerta budhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata “budhi”, berarti budi atau akal. Artinya, kebudayaan dapat diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal”. Sementara dalam bahasa asing dikenal dengan istilah culture yang artinya adalah kebudayaan. Kata tersebut berasal dari bahasa Latin “colere” yang berarti mengolah atau mengerjakan, lebih tepatnya mengolah tanah atau bertani dan dapat diartikan sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam (Soekanto, 1982: 166).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari definisi yang teoretis seperti di atas, kebudayaan adalah predikat-predikat atau “baju-baju” yang dipakai oleh masyarakat untuk mengungkapkan keberadaannya. Karena masyarakat cenderung majemuk dan beragam, maka tidak aneh apabila dalam suatu masyarakat timbul berbagai macam ekspresi budaya. Kebudayaan seorang anak sekolah tentu berbeda dengan mahasiswa, petani, pedagang, atau ibu rumah tangga. Lebih gampangnya begini, mengapa seringkali timbul persoalan antara adik-kakak-orang tua-dll, secara ringkas karena mereka berbeda secara budaya. Seorang anak sekolah senang dengan band, tampil di panggung-panggung, mimpi menjadi artis, tampil menarik dan menjadi bahan perhatian banyak orang, sementara kakaknya mungkin tidak lagi mempunyai perhatian di bidang seperti itu. Atau kalaupun masih perhatian tidak sebergejolak seorang remaja. Akibatnya, timbul konflik hanya karena masing-masing mempunyai bobot perhatian berbeda dalam satu bidang—saya tidak mengatakan sebagai tidak peduli, sebab semua orang pasti mempunyai rasa perhatian terhadap segala macam persoalan hanya berapa persen dia peduli dengan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara berekspresi inilah yang kemudian menimbulkan pengkotak-kotakan tentang budaya Timur-Barat-Utara-Selatan tanpa ada garis batasan wilayah yang jelas. Sampai saat ini kita seringkali mendengar kekuatiran beberapa kalangan tentang budaya Barat dan masih mengagungkan budaya Timur. Di dalam benak kita sangat jelas terbentuk pandangan bahwa budaya Barat adalah budaya yang rusak atau meng-gebyah uyah semua yang berbau Barat adalah rusak, sedangkan budaya Timur adalah budaya yang adiluhung. Bahkan, ada beberapa kalangan yang mengharamkan semua hal yang bersifat Barat. Pikiran yang sederhana seperti itu membuat kita gagap menjawab persoalan apakah kemajuan teknologi bukan termasuk hasil kebudayaan orang-orang “Barat”? Di sisi lain kita juga gagap ketika ditanya apakah budaya Timur yang adiluhung itu? Jawaban yang muncul secara spontan serampangan adalah, “Pokoke Bukan Barat!”. Jawaban seperti itu belum tentu timbul dari pemahaman yang betul mengenai “Barat” itu seperti apa sehingga dapat menjlentrehkan “Bukan Barat”.**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gugatan-gugatan seperti itu meminta kita mempertimbangkan penilaian-penilaian kita terhadap wilayah asal budaya yang terlanjur kita konsumsi. Sejarah kebudayaan dan peradaban Barat saat ini ternyata hasil dari sumbangsih peradaban Asia—kalau boleh disebut Islam adalah bagian dari Asia—yang diperoleh dari Yunani dan Rpmawi. Karena itu, menyikapi pengkotakan budaya Timur-Barat-Utara-Selatan tidak pelu ngotot-ngotot sebab bisa diselesaikan di warung kopi—di warung kopi kita menemukan teknologi hasil produksi kemajuan peradaban Barat, seperti HP, dan kita juga menemukan cangkul pak tani yang sedang istirahat setelah lelah bekerja di sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan yang lebih penting sebenarnya adalah merenungkan dan berpikir apa yang ada di balik budaya Barat dan Timur atau Utara dan Selatan, sehingga kita dapat memberikan penilaian secara arif. Pada saat kita membeli HP, misalnya, kita tentu tidak menanyakan ini produk Barat atau Timur? Apalagi pertanyaan lain yang sangat penting, seperti: Apakah untungnya kita mempunyai HP dan apa kerugiannya? Berat mana antara untung dan ruginya? Dan pertanyaan paling mendasar adalah, apakah saya benar-benar membutuhkan alat komunikasi yang bernama HP atau sekadar karena teman-teman saya mempunyai HP, maka saya juga harus mempunya HP?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan seperti itu baru lontaran-lontaran iseng yang memunculkan pembahasan lebih mendalam. Di antaranya, apakah kepentingan orang-orang menciptakan HP dan menjual sinyal yang memanfaatkan udara? Bukankah udara diciptakan untuk digunakan oleh seluruh makhluk secara umum dan tidak hanya untuk gelombang radio, sinyal hp, radar, dll. Benarkah kepentingan pembuatan teknologi murni untuk kepentingan manusia secara menyeluruh, tetapi mengapa hanya orang-orang yang berduit mempunyai alat-alat teknologi yang maju?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mempunyai teman yang tidak mau disebut ketinggalan zaman, sebut saja namanya Polan. Polan berpendapat bahwa ukuran tidak ketinggalan zaman adalah apa saja yang dilakukan oleh teman-temannya, tentu saja termasuk saya. Kalau temannya membeli sepatu merk Adidas, maka dua hari kemudian dia pasti sudah memilikinya. Begitu pula dengan barang-barang lainnya. Kemudian, kami bersepakat untuk memiliki barang-barang yang berbeda merk dan jenisnya antara satu sama lain dan satu bulan kemudian kami ganti dengan merk dan jenis lain. Secara ekonomi Polan memang kaya dan dituruti segala kemauannya. Sehingga, apa yang kami miliki juga dimiliki oleh orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari kami mengajak Polan ke tempat pariwisata. Polan sama sekali belum pernah ke tempat itu. Saat kami sedang asik-asiknya ngobrol, Polan kebelet untuk buang air kecil. Salah seorang teman kami mengatakan bahwa kencing di tempat ini berbeda dengan kencing di tempat lain dan harus sesuai dengan syarat-syaratnya. Kami semua pun berpendapat seperti itu. Polan minta kami untuk mengantarkannya dan memberi contoh, tetapi tak seorang pun yang mau karena tidak ada yang akan kencing dan kami memberikan jalan keluar agar dia menonton orang lain sebelum kencing. Polan sangat senang dan langsung berangkat. Sepuluh menit kemudian kami melihat Polan yang datang dengan lebam di pipi karena dipukul seorang preman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, sangat sulit untuk membedakan antara terbuka—di kalangan remaja dikenal dengan istilah “Gaul”, “Ngetrend”, “Gak Telmi”, “Pop”, dll—dengan tidak mempunyai identitas. Kalimat yang paling harus diperhatikan adalah bahwa manusia “menciptakan” kebudayaan dan kebudayaan “mempengaruhi” manusia. Seorang rocker dapat menciptakan kebudayaan rocker karena “rocker juga manusia” dan bukankah kita juga adalah manusia yang dapat menciptakan kebudayaan meskipun kita belum tentu rocker? So what gitu loh?&lt;br /&gt;Ya, kita tidak bisa membiarkan sifat terbuka melindas identitas kita. Pertanyaannya kemudian, apa sih identitas kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya sebuah kebudayaan dari suatu kawasan tentu tidak lepas dari kepentingan-kepentingan masyarakat itu. Apakah kepentingan di balik kebudayaan masyarakat Eropa yang berpakaian terbuka? Apakah hal itu dipengaruhi oleh kondisi alam dan cuaca, stok kain yang terbatas, para pendahulu mereka yang suka telanjang, atau sebab-sebab lain? Apakah hal itu sama dengan kondisi kita sehingga harus memilih untuk berpakaian minim juga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan di atas akan mengajak kita berpikir tentang kondisi alam, faktor ekonomi, sejarah, dan kepentingan-kepentingan lain. Pengetahuan tentang semua itu setidaknya membuat seseorang tidak gagap memahami dan membaca suatu fenomena budaya, begitu pula ketika membaca karakter orang dari kawasan tertentu.&lt;br /&gt;Sebagai penutup, kita masih sering mendengar bahwa nenek moyang kita dulu orang-orang sakti, tetapi mengapa penjajahan kolonial Belanda dapat bertahan sampai 350 tahun ditambah 3,5 tahun penjajahan Jepang? Siapakah sebenarnya yang menyebut nenek moyang kita sakti? Mengapa mereka menyebut nenek moyang kita sakti? Apakah kepentingan mereka menyebut nenek moyang kita sakti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, kita masih harus banyak bertanya kemudian mencari jawabannya, sebab banyak hal yang masih belum kita ketahui. Dan, Jurnal Kebudayaan “The Sandour” merupakan salah satu ikhtiar dari orang-orang Lamongan untuk mencari identitas budayanya, sebagai manusia yang tinggal di Lamongan secara khusus dan Indonesia secara umum, di tengah berbagai macam warna dan bentuk kebudayaan yang sedang berkelebat saat ini. Bacalah tulisan Raudal Ranjung Banua yang tidak menganggap sepenuhnya salah aksi teroris yang terlanjur disematkan untuk orang-orang Lamongan, bacalah tulisan Nurel Javissyarqi yang mengungkapkan bahwa filsuf dan sastrawan dunia dari India terpukau oleh negeri kita, bacalah tulisan Joko Sandur yang berbagi pengalamannya tentang tradisi Lamongan, bacalah cerpen AS Sumbawi yang namanya tidak asing di surat-surat kabar, dan masih banyak lagi penulis-penulis berkaliber nasional.&lt;br /&gt;Ternyata, kita mempunyai budaya sendiri….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5441675162408452479-9067387227691322410?l=haris-delhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/feeds/9067387227691322410/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5441675162408452479&amp;postID=9067387227691322410&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/9067387227691322410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/9067387227691322410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/2008/11/ngalor-ngidul-tentang-kebudayaan1.html' title='NGALOR-NGIDUL TENTANG KEBUDAYAAN1'/><author><name>Haris Abdul Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11211340568889812710</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-PM2xzdR8dq0/ToBnmZOkboI/AAAAAAAAAGM/YrqTu-r-6GA/s220/Haril%2BDel%2BHakim.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5441675162408452479.post-219699255459738843</id><published>2008-11-19T04:59:00.000-08:00</published><updated>2011-09-26T05:16:19.571-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Haris del Hakim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Forum Sastra Lamongan'/><title type='text'>TRAGEDI RAJA RAMSES II</title><content type='html'>Haris del Hakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Ramses II adalah salah satu penguasa Mesir paling populer pada tahun 3000 SM. Karakternya diabadikan dalam teks kitab suci agama Islam dengan menggunakan gelar Fir'aun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramses digambarkan sebagai penguasa yang tiran dan despotik. Pada masa kekuasaannya terjadi pembunuhan besar-besaran terhadap bayi-bayi laki-laki yang baru lahir. Ramses sama sekali tidak menghiraukan isak tangis orang tua mereka. Semua itu berdasarkan ramalan para dukun istana bahwa salah satu dari bayi itu bakal menjadi musuh yang menyebabkan kematiannya. Ramses tidak mau memiliki musuh. Jangankan musuh, oposisi saja dia tidak dapat menerimanya. Dia ingin menjadi penguasa tunggal tanpa sekutu. Dan pembunuhan bayi-bayi itu adalah cara pintas mematikan benih yang akan berkembang menjadi oposisi. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Ramses ini perbudakan yang tidak manusiawi semakin merajalela. Rakyat disuruh bekerja keras membangun istana-istana yang megah dan makam-makam raksasa berupa piramid tanpa upah sepeser pun. Mereka disuruh bekerja keras untuk mengabdi kepada raja dan Negara tanpa tahu apa yang diberikan oleh raja dan Negara kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menciptakan hegemoni budaya dan spiritual yang melanggengkan kekuasaannya. Dia menciptakan stigma yang sistematis yang didukung para cendekiawan dan agamawan, dalam kitab suci agama Islam disebut sebagai tukang sulap. Mereka ini mengedepankan pembangunan-pembangunan yang berhasil dibangun oleh Ramses. Dan yang lebih penting, segala tindakan Ramses disebut sebagai kebaikan yang berdasarkan pada pengetahuan logis dan ajaran-ajaran leluhur negeri Mesir. Sehingga, rakyat merasa senang dalam kekuasaannya atau tidak menolak kekuasaannya. Menurut Amien Rais, Fir'aun menjadi seorang penguasa tiran tidak sekadar karena kemauannya sendiri, tetapi juga didukung oleh penerimaan rakyat Mesir ketika itu (Amien Rais; 1999). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada puncak kesombongannya, Ramses mengangkat dirinya sendiri sebagai asas tunggal kebenaran. Bahkan, dia tidak segan-segan mendaku sebagai Tuhan. Dia memiliki kekuasaan dan dapat melakukan apa pun terhadap rakyat dan pembantu-pembantunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, dia marah besar ketika Musa menyerukan adanya Tuhan selain dia. Musa, yang bagi Ramses adalah anak durhaka dan buronan yang pengecut, anak kecil yang air kencingnya mengotori jubah kebesarannya, bukan keturunan darah biru yang tahu etika-etika keluhuran, hanya anak pungut yang tidak jelas orang tuanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akan tetapi, anak kemarin sore itu berubah menjadi musuh besar yang sangat berbahaya bagi kelangsungan kekuasaannya. Ramses pun mengatur rencana mengalahkan Musa secara politis dan mempermalukannya di depan rakyatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara paling mudah adalah beradu kemahiran mempesona rakyat. Musa tidak memiliki lidah yang fasih dan lentur untuk bersilat lidah, sehingga rakyat akan mencemoohnya ketika mendengar bicaranya yang terbata-bata. Sementara Ramses memiliki puluhan tukang sulap yang fasih dan tekun mempelajari ajaran-ajaran kuno. Selain itu, mereka juga memiliki ilmu sulap yang tiada bandingan: tali-tali disulap menjadi ular-ular yang menakutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari yang ditentukan, Musa dan tukang sulap Ramses bertemu untuk beradu ketangkasan. Rakyat Mesir telah berkumpul menyaksikan pertarungan siapakh sebenarnya wakil kebenaran. Musa menyuruh para tukang sulap beraksi yang segera disambut dengan lemparan tali-temali ke lapangan. Seketika itu semua orang melihat tali-tali berubah menjadi ular dan merambat ke mana-mana hingga membuat banyak penonton yang menjerit. Musa mendapat wahyu untuk melempar tongkatnya yang segera mengenai temali dan orang-orang pun sadar bahwa yang dilemparkan hanya tali dan bukan ular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa itu membuka mata hati banyak orang dan juga para tukang sulap. Mereka seakan sadar bahwa dukungan pada Ramses selama ini hanya semu dan pengabdiannya berdasarkan rasa takut atas kekejamannya. Seketika itu mereka berbalik arah mendukung Musa dan memusuhi Ramses. Akibatnya, mereka dihukum potong salib; dipotong tangan kiri dan kaki kanan atau tangan kanan dan kaki kiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramses benar-benar marah. Dia bertekad bulat menghancurkan Musa dan pengikutnya. Musa yang tahu rencana itu segera mengumpulkan pengikutnya dan meninggalkan Mesir. Ramses tidak tinggal diam. Dia mengerahkan segenap prajurit istana untuk mengejarnya. &lt;br /&gt;Hingga di tepi Laut Merah tentara Ramses hampir mendapati Musa dan pengikutnya. Tetapi, mukjizat menyelamatkan Musa. Laut terbelah dan mereka menyeberang dengan selamat ke tepian. Setelah semua berhasil menyeberang, lautan kembali seperti sedia kala. Padahal, Ramses beserta tentaranya sedang di sana. Tak ayal lagi, mereka tenggelam di antara gelombang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penguasa yang kejam dan mengaku sebagai Tuhan itu ternyata tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Bahkan, dia tidak tahu di mana akan meninggal. Dia telah membangun makam megah namun justru mati di lautan. Piramid-piramid yang dibangun dengan segala kekayaan itu tidak berguna sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu di antara tukang sulap yang lolos dari hukuman Ramses atau rakyat yang pernah ditindasnya merasa iba dan kasihan pada mantan penguasanya yang sedang gelagapan di antara gelombang dan meregang nyawa. Mereka minta Musa memohon agar Tuhan menyegerakan kematiannya, karena mereka sudah memaafkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, Tuhan tidak mengampuni kesalahan yang dilakukan Ramses. Manusia dapat memaafkan kesalahannya tetapi Tuhan belum dapat mengampuni orang yang berbuat lalim kepada makhluk-Nya. Meskipun, Ramses telah mengakui Tuhan Musa. Tetapi, sudah terlambat. Puluhan tahun Musa menyeru dia bukan Tuhan yang dapat berbuat semaunya dan sewenang-wenang, tapi dia justru merintangi dan menghalangi kebenaran yang dibawa Musa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan tetap kesalahan. Pemberian maaf untuk kesalahan yang tidak dapat dimaafkan berarti pendidikan bagi generasi yang akan datang untuk melakukan apa saja kemauan mereka tanpa menghiraukan orang lain, karena di saat sakaratul maut mereka akan dimaafkan.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5441675162408452479-219699255459738843?l=haris-delhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/feeds/219699255459738843/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5441675162408452479&amp;postID=219699255459738843&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/219699255459738843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/219699255459738843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/2008/11/tragedi-raja-ramses-ii.html' title='TRAGEDI RAJA RAMSES II'/><author><name>Haris Abdul Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11211340568889812710</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-PM2xzdR8dq0/ToBnmZOkboI/AAAAAAAAAGM/YrqTu-r-6GA/s220/Haril%2BDel%2BHakim.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5441675162408452479.post-1108351667881272983</id><published>2008-10-17T06:07:00.000-07:00</published><updated>2011-09-26T05:15:29.752-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Haris del Hakim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Surabaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Masa Lalu Sebagai Kenang-Kenangan</title><content type='html'>Haris del Hakim &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa kali kaujenguk masa lalumu setiap hari?&lt;br /&gt;Kenangan masa lalu selalu tampak indah dan senantiasa diingat dengan wajah berseri-seri, seakan alam semesta telah berubah menjadi alat musik yang hanya memainkan nada-nada bahagia. Meski perih dan luka tidak lepas dari satu kurun dalam kenangan itu, namun tak ubahnya nada improvisasi yang menambah merdu irama. Dan cerita tentang masa lalu lebih sering diiringi dengan tertawa dan bangga, apalagi bila terlibat di dalamnya sebagai pelaku.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, saat sekarang yang sedang dialami dan dijalani menunjukkan bahwa dunia ini hanya hidup yang getir, pahit, dan luka yang tak kunjung sudah. Irama saat ini hanya lagu sendu yang sering menguras air mata, seakan tidak pernah mendapatkan satu tangga nada yang mampu membuat gembira. Semua peristiwa saat ini seakan tersedot dalam pusaran melelahkan dan membuat putus asa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali waktu muncul kesempatan menyenangkan dengan hadirnya rezeki, kabar gembira, atau kawan lama yang selama tahunan tidak bertemu, kemudian dalam keriangan tidak bosan berujar seakan Tuhan bersamanya. Akan tetapi, bila kesempatan sulit dan sesak menimpanya; ketika seorang juru tagih menagih piutang, penyakit yang datang tiba-tiba, atau sesuatu yang hilang, maka yang keluar dari bibir adalah keluhan-keluhan bahwa Tuhan telah meninggalkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, impian-impian membumbung tinggi hingga lupa bahwa dia masih memijakkan kakinya di bumi. Seperti seorang pemimpi yang tidur sepanjang waktu kemudian bangun sekadar untuk menceritakan mimpinya kepada orang lain. Mimpi itu begitu dekat dan hampir menjelma kenyataan. Namun, begitu mimpi itu hanya igauan di siang hari dan bahan lelucon orang-orang yang pernah mendengar ceritanya, dia segera mengambil seutas tali dan mengikat lehernya di dahan pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah yang terjadi ketika kau terperangah dengan kehidupan yang begitu pendek dan menganggapnya sebagai akhir dari segalanya. Ungkapan ini begitu mudah kaunyatakan, sebagaimana mudahnya kautemukan iring-iringan orang yang mengantar usungan keranda menuju pemakaman. Berjalanlah menyusuri tempat-tempat yang belum kaujamah dan jangan terpukau mendapati pengiring jenazah, sebab ketika kau terpukau pertanda kau sedang lalai bahwa dunia ini pasti berakhir. Pada saat itu kaulihat iringan pengantar jenazah yang sama sekali tidak kaukenali, tapi kau tak tahu bila kapan iringan itu mengantarkan jenazah tetanggamu atau keluargamu atau bahkan dirimu sendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Oleh karena itu, akrabilah kematian agar dapat kautuntaskan semua ketakpastian dan selamat dari kegalauan. Peristiwa dan perasaan barangkali telah membantingmu ke sana ke mari agar kau mengaduh dan mengeluh sekeras-kerasnya, namun akrabmu dengan kematian akan mengajarimu untuk menjalaninya dengan tegar dan tersenyum. Bukankah semua itu hanya sesaat dan sebentar kemudian segalanya akan berlalu? Nafas boleh panjang namun dia pasti berujung pada maut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati-hatilah mencerna kata-kata tersebut, sebab kesalahan memahaminya dapat membuatmu terjebak pada lembah ketidakpedulian dan keacuhan.&lt;br /&gt;Sabda Suci, “Sesungguhnya kehidupan dunia ini tidak lebih sebuah pentas permainan dan kelalaian.” Kalimat itu menyindirmu karena serius menghadapi saat-saat sekarang dan melupakan kehidupan hakiki yang lebih panjang tanpa ujung. Kau keliru bila membayangkan saat sekarang hanya untuk sekarang, sebab sekarang adalah mempersiapkan tanaman yang dapat dipetik di kelak kemudian hari; saat ini kau mesti menyiapkan lahan keluasan iman, memilih benih yang bermanfaat, menanam dengan ikhlas di musim yang tepat, menyiangi gulma kemusyrikan, memelihara dari gangguan kekufuran dan kemunafikan, dan berdoa dengan harapan dan kekuatiran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan jauh ke depan yang melahirkan kesadaran tentang awal dan akhir mengajarkan kesenangan dan anggapan kenikmatan hanya berlaku dalam sepenggal waktu; mengapa kaucuci tangan bersih-bersih dari kesusahan yang menyertainya? Belajarlah menikmati hidup abadi agar tidak goyah dalam kurun waktu sementara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan sekitar hanya cermin hati. Prasangka buruk di dalam benak seperti seorang dirigen yang memimpin semesta untuk berteriak, “Ya, kami buruk sekali. Lihatlah, wajah kami penuh bopeng bukan?” Kalau dalam prasangka dunia ini tampak indah, maka gerakan tanganmu pun lincah untuk membimbing semesta bersorak, “Oh, kami sangat indah. Sayang kau tidak pernah memperhatikan.”&lt;br /&gt;Karena itu, dusta besar bila menganggap semesta ini munafik. Katakan, dirimu yang munafik hingga tidak sanggup memahami yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Nabi pernah bersabda, “Aku heran dengan orang mukmin. Ia tidak pernah bersedih. Ia memandang kehidupan dunia ini dipenuhi keindahan semata.” Ketika seorang mukmin dicaci maka dia berkata, “Alhamdulillah, dosaku berkurang satu.” Di saat mengalami kemiskinan dia berkata, “Alhamdulillah, aku diberi kesempatan untuk beribadah dan tidak perlu repot bertanggung jawab mengurusi tetek bengek harta yang belum tentu bermanfaat di akhirat nanti.” Ketika kaya dia berujar, “Alhamdullah, aku diberi kelapangan oleh Tuhan untuk menunaikan hak mereka yang terampas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takarlah semua yang menimpamu dengan takaran seimbang, agar perasaan kecewa tak menyergapmu. Kau hanya setitik makhluk kecil di antara tatanan semesta dan kau tidak pernah tahu apa yang terbaik untuk dirimu sendiri; apakah kau masih berpikir mampu berbuat yang terbaik untuk alam semesta ini? Apa yang kaukira kebaikan bisa saja keburukan yang suatu saat akan meletus dan apa yang kausangka keburukan ternyata kebaikan yang menyelamatkanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenguklah masa lalumu sekadar saja di saat yang tepat agar kau tidak terseret oleh siksaan yang tidak kausangka-sangka. Sebagaimana yang dialami oleh istri Lut. Pada malam-malam buta orang-orang beriman diajak hijrah oleh Lut, sebab negeri mereka sebentar lagi dihujani batu-batu api dan dibalik tanahnya. Lut merasa sayang dengan istrinya yang sering berpihak pada kekufuran dan mengajaknya ikut hijrah. Seperti yang dipesankan oleh Tuhan melalui malaikat, dia pun berpesan kepada istrinya bila melakukan perjalanan jangan sekali-kali menoleh ke belakang, meskipun rasa ingin tahu begitu kuat untuk melihat apa yang terjadi. Begitu pula yang disampaikannya kepada orang-orang beriman. Dan pada malam itu janji siksa Tuhan benar-benar datang. Lut beserta istri dan orang-orang mukmin telah meninggalkan negerinya. Malam itu bintang-bintang api jatuh. Suara berdebum-debum diiringi teriakan kesakitan dan mengerikan. Jeritan dan tangis penyesalan sudah tidak berarti lagi. Lut menggigit bibir merasa kasihan pada kaumnya yang tidak mempercayainya. Sedangkan istrinya lupa dengan pesan suaminya. Dia menoleh ke belakang dan melihat siksaan yang didustakan benar-benar datang. Dia tertegun dan tertinggal jauh di belakang hingga tanah yang dipijaknya pun ikut terbalik atau sebongkah batu panas menimpuknya?! Pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban dan bantahan. &lt;br /&gt;Maha suci Tuhan yang menciptakan lupa. &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maulana Jalaludin Rumi mendendangkan wejangan dalam Matsnawi tentang seseorang yang gemar menaburkan deduri di tengah jalan. &lt;br /&gt;Kata-kata itu ditujukan bagi orang bebal yang senang dengan makhluk. Dia mempunyai kebiasaan menanam duri di tengah jalan. Orang-orang yang telah melewati jalan itu mencaci makinya dan banyak pula yang menyuruh untuk mencabut duri-duri itu, tetapi ia tidak juga melakukan. Duri-duri yang ditanam itu semakin hari semakin tumbuh, bahkan telapak kaki manusia dapat mengucurkan darah karena tergores. Duri-duri itu pula yang merobek pakaian makhluk; sedangkan telapak kaki para darwisy; alangkah kuatnya menanggung rasa sakit. Seorang bijak memanggilnya dan berkata, “Cabutlah duri yang kautanam di tengah jalan itu!” Namun, ia menjawab, “Ya, aku akan mencabutnya pada suatu hari nanti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari telah berlalu. Sementara itu ia akan mencabut duri-duri itu besok sehingga batang duri pun tumbuh menjadi semakin besar. &lt;br /&gt;Orang bijak berkata lagi padanya, “Wahai yang memungkiri janjinya sendiri, segera lakukan apa yang kuperintahkan. Jangan biarkan duri-duri itu melukai dirimu kembali.”&lt;br /&gt;Ia mengatakan, “Hari-hari itu tengah kita jalani, paman!” &lt;br /&gt;Orang bijak melanjutkan bicaranya yang sempat disela tadi, “Segera lakukan! Jangan hanyak berangan-angan untuk menunaikan agama kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai, kalian yang suka mengutip kata “besok”, ketahuilah bahwa hari dan zaman pasti berlalu. Pohon duri yang buruk rupa ini akan tumbuh semakin kuat dan ulet; dan hanya seorang syaikh yang kuat sanggup mencabutnya. Pohon duri itu pun semakin kuat dan tinggi, sementara yang akan mencabutnya pun bertambah renta dan ringkih. Pohon duri, setiap hari dan setiap saat, makin menghijau dan elok dipandang mata. Adapun mencerabut duri makin bertambah susah dan berat. Ia semakin dewasa sementara dirimu semakin tua, maka segeralah, dan jangan menyia-siakan waktumu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, semua perilaku buruk dalam dirimu merupakan pohon duri, sementara kalian mendapatkan tusukan duri-duri di telapak kakimu itu adalah persoalan lain. Betapa banyak yang terluka karena perilakumu: kau benar-benar tidak mempunyai perasaan, bahkan sebenarnya dirimu tujuan dari peniadaan. Apabila dirimu menghadapi orang lain yang terluka karenamu—yang menjauhimu karena perilakumu yang buruk—kadangkala kau lupakan perbuatanmu; bahkan, kau lalai dari luka yang terjadi pada dirimu sendiri? Kau adalah azab bagi dirimu sendiri dan semua orang selainmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil kapak dan tebang pohon duri itu, seperti yang dilakukan orang-orang gagah. Cabutlah dengan segenap kekuatanmu, seperti yang dilakukan Ali ketika mencabut pintu Khaibar. &lt;br /&gt;Kalau saja kau tidak mampu, maka jadikan duri sebagai sahabat bunga mawar dan jadikan api sebagai sahabat cahaya kekasih. Hingga cahayanya pun menaungi api yang ada pada dirimu dan menjadikan sarana duri-durimu sebagai taman mawar. Kau seumpama api neraka Jahim adapun mursyidmu adalah orang mukmin; hanya seorang mukmin yang mampu membekukan api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saja yang kau tanam pasti akan berbuah dan sekaligus mengundang kehadiran burung prenjak, burung gagak, atau merpati bagimu. Kita telah kembali untuk memotong jalan lurus dengan benda; kita harus kembali, tuan. Di manakah jalan kami? &lt;br /&gt;Kami telah menjelaskan kepadamu, wahai pendengki. Keledaimu telah lepas sementara rumahmu masih jauh, maka segera berangkat! Tahun telah kehilangan separuh hari-harinya dan sekarang bukan lagi musim tanam, sehingga hari-hari tersisa ini hanya berisi muka hitam dan perbuatan buruk. Seekor ulat telah mengeram di akar pohon jasad, maka suatu keharusan untuk mencabut dan melemparkannya ke neraka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jasad yang mati tak lebih gumpalan adonan roti—ketika bersahabat dengan ruh—menjadi hidup, bahkan menjadi mata kehidupan. Kayu bakar yang hitam ketika bersahabat dengan api—akan melenyapkan warna hitamnya dan menyulapnya—menjadi cercah-cercah cahaya. Bangkai keledai—ketika jatuh di gugusan bintang yang terang—akan terselungsungi dari kekeledaian dan terhalalkan jasadnya. Sibghatallah menjadi bejana warna wahdaniyah. Berbagai warna di dalamnya menjadi warna tunggal. Apabila ada seseorang berada di dalam bejana itu dan kau katakan, “berdirilah”, maka ia akan menjawabmu dengan suara genderang, “aku adalah wadah maka jangan mencaciku.” Ungkapannya “aku adalah wadah” merupakan esensi pernyataan “aku adalah Kebenaran”. Apakah selain besi dapat mengambil warna api untuk dirinya? Warna besi terhapus dalam warna api. Besi seakan-akan dalam kebisuan menampakkan kesenangan dengan sifat api. Saat ia telah menjadi—dalam warna bara merah—seumpama emas berpijar, maka ia merasa bahagia seraya menyatakan tanpa lisan, “akulah api!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku adalah api. &lt;br /&gt;Kalau kau ragu maka ulurkan tanganmu ke tubuhku. &lt;br /&gt;Aku adalah api. &lt;br /&gt;Kalau kau sama denganku maka tempelkan wajahmu pada wajahku. &lt;br /&gt;Seorang manusia ketika meminjam cahaya dari Allah menjadi sandaran; para malaikat sujud kepadanya karena Allah telah mengijabahinya. Begitu pula ia menjadi sandaran bersujud manusia; ketika ia telah memurnikan ruhnya dari keraguan dan tirani, seperti malaikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah api? &lt;br /&gt;Apakah besi? &lt;br /&gt;Tutup kedua bibirmu dan jangan banggakan jenggot karena mirip dengan kaum berjenggot. Jangan langkahkan kaki ke laut dan kurangi bicaramu tentang laut. Berdirilah di pantai dalam keadaan diam demi menjaga kedua bibirmu dari kebingungan. &lt;br /&gt;Hati adalah telaga yang terhijab, karena itu ia memiliki cara rahasia menuju laut. Penyucianmu yang terbatas membutuhkan kurun waktu; jika tidak, maka hitungan akan bertentangan dengan sedekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 25 Ramadhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5441675162408452479-1108351667881272983?l=haris-delhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/feeds/1108351667881272983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5441675162408452479&amp;postID=1108351667881272983&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/1108351667881272983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/1108351667881272983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/2008/10/masa-lalu-sebagai-kenang-kenangan.html' title='Masa Lalu Sebagai Kenang-Kenangan'/><author><name>Haris Abdul Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11211340568889812710</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-PM2xzdR8dq0/ToBnmZOkboI/AAAAAAAAAGM/YrqTu-r-6GA/s220/Haril%2BDel%2BHakim.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5441675162408452479.post-8279130735631854351</id><published>2008-08-05T06:48:00.000-07:00</published><updated>2011-09-26T05:13:31.508-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Haris del Hakim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Forum Sastra Lamongan'/><title type='text'>Puisi-Puisi Haris del Hakim</title><content type='html'>&lt;strong&gt;LELAKI DENGAN LUKA DI DADA KIRI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lelaki dengan luka di dada kiri memetik rembulan dan memerahnya; jadilah sebersit cahaya membentang antara langit dan bumi kemudian dititinya setapak demi setapak hingga seribu tahun perjalanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di sana seribu matahari bergelantung di dahan rindu dan melambaikan tangan kemudian menuntun jemari keriput untuk memetiknya dan ditapis di secangkir cahaya; jadilah samudera&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di sana gelombang-gelombang menghantam karang dan membersihkan lumut; jadilah kerang yang mengerat bulir pasir dan memuntahkannya: berkilau-kilau sebelum tersentuh cahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di sana butir-butir mutiara menetes setelah ditiupkan padanya mantra-mantra purba; lelaki dengan luka di dada kiri tidur terlentang menunggu butir-butir itu jatuh di dadanya dan berdoa agar degup jantungnya berdetak seiring detik jam yang menggantung di gerbang keheningan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lelaki dengan luka di dada kiri menemukan dirinya kehilangan kata-kata dan degup jantungnya; rembulan, matahari, samudera, kerang, dan mutiara: bisu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamongan, 13/04/07&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SAPI KITA DALAM JERAT LABA-LABA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seekor sapi – dari tujuh yang kita punya – terperangkap sarang laba-laba. dia menjejak-jejak senar-senar rapuh itu sambil memamah angin. kemudian seekor singa penyihir melemparkan buhul-buhul, seperti penyihir fir’aun. sapi itu menggeleng-gelengkan kepala seraya melafalkan nama samiri. buhul-buhul bersekutu dengan jaring laba-laba untuk menjeratnya semakin kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;laba-laba memanggil teman-temannya dan kentut bersama-sama di depan hidung sapi kita itu. kita menyumbat hidung dan mencerca penggembala yang belum kembali dari buang hajat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamongan, 2 mei 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;AKU DAN PEREMPUAN YANG TIDAK KUKENAL&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kami duduk menunggu bus lewat. “ini adam,” kataku memperkenalkan diri. dia menimpali, “ini hawa.” lalu adam dan hawa saling kunci dalam kamar surga. mereka bicara melalui lubang kunci dengan kata-kata membosankan. bersamaan dengan itu, lahirlah setan dari mani onani iblis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“apa yang dibayangkan oleh iblis ketika itu?” tanyaku padanya. kemudian dia menjawab sambil bercekikik, “cover majalah porno.” dan aku membantah, “tidak. tuhan masih belum sempat bikin majalah, apalagi yang porno.” dia lanjutkan percakapan, “jangan panjang-panjang bicara.” aku bertanya, “mengapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bus yang ditunggu perempuan itu datang. dia berkata lirih,”nah!” seraya membuka pintu dan naik tangga besi itu. aku lupa menanyakan apakah hawa dulu telanjang ketika setan lahir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamongan, 22 april 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SEBUAH KISAH TENTANG MIMPI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mimpi yang biasa mengepulkan asap rokok di atas pematang telah kedinginan, bahkan membeku, dan api di ujung batang rokoknya pun mati. ia tidak bisa berkisah tentang tanah, air, bulir padi, ikan, dan penghidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mimpi berkali-kali mencoba membunuh diri dengan merendam tubuh dalam lumpur, tetapi udara masih kerasan di tubuhnya. berkali-kali pula ia mencuri kain kafan mayat yang meninggal hari kamis legi, namun ia selalu kalah dengan serangga-serangga tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada suatu malam penduduk menyaksikan mimpi memungut api dari rumah mereka kemudian berteriak-teriak seperti mengigau, “pagi masih jauh, musim kerap memungkiri janji, kata-kata selalu berdusta, pilihan menjadi takdir terburuk, sementara kutukan hanya makanan untuk anak-anak, dan penderitaan seperti kepastian yang tak terelakkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akhirnya, mimpi pulang ke pematang dan bernaung di bawah sebatang pohon jati tua. ia memetik pupus daunnya dan ditorehkan di atas…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tepat di atas pematang: lamongan, 20/06/08&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TIGA EKOR RAYAP DAN BURUNG PELATUK&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seekor rayap berkepala kecil berkata pada pelatuk yang hampir saja mencucuk tubuhnya, “aih! selalu kau pura-pura tidak tahu adaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;burung pelatuk berhenti sebentar kemudian mematuk di tempat lain. seekor rayap berkaki ganjil muncul di balik kulit yang dikelupasnya dan berseru, “apakah kau pura-pura tidak tahu adaku lagi?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;burung pelatuk tertegun sejenak lantas mematuk di bagian lain. seekor rayap yang kehilangan dua kaki depan menyembulkan kepalanya di balik serat kayu yang terkelupas dan berteriak, “tidak adakah pohon lain lagi?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;burung pelatuk mengangkat kepalanya lalu secepat kilat mematuk ketiga rayap satu per satu. “aku masih belum kenyang,” bisiknya seraya mematuk lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;surabaya-lamongan, 26/06/05&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;UNDANGAN SEORANG BAPAK&lt;br /&gt;YANG ANAKNYA SEDANG ULANG TAHUN&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;: bersama pavel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku sudah tidak tahan mendengar pengaduan anakku untuk mengadakan pesta selamat tinggal bagi masa kanak-kanaknya. berbekal hutang ke sana kemari dan menggadaikan sisa barang yang berharga, akhirnya tersedia kue kukus di atas meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebentar lagi lilin-lilin dinyalakan dan lagu-lagu ulang tahun disorakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku duduk di kursi memandang jarum jam bergerak. kupanggil istriku agar memasak nasi jagung, sayur asam, dan menggoreng ikan asin. “jangan lupa sambalnya,” teriakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah semua masakan terhidang di atas meja, aku segera mengundang tetangga, kenalan, dan siapa saja yang kuingat namanya, tidak lupa tuhan – tentu saja kukatakan menu makanan kami agar dia tidak kecewa. tetapi, tidak ada yang datang selain tuhan yang maha sibuk. akhirnya, kami makan sambil menonton anak-anak berpesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tanjung kodok, awal juli 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DOA KAWANAN ANJING&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tuhan,&lt;br /&gt;ke mana para pelacur yang menyingkapkan betis, melepas sepatu high heel, memeras payudara, dan memberikan susu kepada anjing-anjing yang kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15/07/05&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENGAKUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tuhan, banyak dosa yang kulakukan. tolong berikan kartu namamu&lt;br /&gt;biar kukunjungi rumahmu. jangan lupa sambut aku dengan senyum&lt;br /&gt;agar aku tak ragu-ragu bertamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lamongan, 4 September 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;LAUT PADA SEBUAH SENJA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;: buat calon istriku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;burung-burung culuk belum pulang memandu para nelayan, sementara matahari melukis langit dengan lembayung. ketika itu siur angin membawa debu-debu&lt;br /&gt;menimbuni kastil pasir dan membangun gugusan pulau tanpa nama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di kejauhan nahkoda-nahkoda kapal membunyikan peluit panjang dan mengusir anak-anak ikan yang bermain di debur ombak. di atas karang-karang pilihan pernah aku kehilangan ikan kering kemudian dengan sampan kecil kusisir&lt;br /&gt;debu, pasir, gelombang; amboi, ikan kering memandu ribuan paus berebutan menelanku sesampanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lamongan, menjelang peminanganku pada 9 maret 06&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5441675162408452479-8279130735631854351?l=haris-delhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/feeds/8279130735631854351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5441675162408452479&amp;postID=8279130735631854351&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/8279130735631854351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/8279130735631854351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/2008/08/puisi-puisi.html' title='Puisi-Puisi Haris del Hakim'/><author><name>Haris Abdul Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11211340568889812710</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-PM2xzdR8dq0/ToBnmZOkboI/AAAAAAAAAGM/YrqTu-r-6GA/s220/Haril%2BDel%2BHakim.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5441675162408452479.post-5791639475737164493</id><published>2008-06-24T20:41:00.000-07:00</published><updated>2011-09-26T05:10:21.586-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Haris del Hakim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Surabaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>ANAK-ANAK LUMPUR</title><content type='html'>Haris Del Hakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami hampir seperti anak-anak lain yang tinggal di kawasan pedesaan. Lumpur bagi kami adalah sahabat paling menyenangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat kami melihat kubangan air di tanah kering, bekas orang-orang memandikan sapi atau sepeda, kami berebutan untuk mendahului sampai di tempat itu. Yang pertama kali sampai akan mengangkangkan kaki sebagai bukti bahwa dialah penguasa kubangan berlumpur itu dan yang lain akan berebut untuk menggantikan kedudukannya. Kami saling dorong. Jatuh secara bergantian. Teman yang curang tidak mau berdiri setelah jatuh. Dia duduk di kubangan dan melempar-lemparkan lumpur ke arah yang lain, sehingga tidak ada seorang pun yang berpakaian bersih lagi.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, permainan itu tidak semenyenangkan bila dibandingkan membuat kubangan sendiri. Memperebutkan kubangan menjadikan kami saling bermusuhan satu sama lain, bahkan permusuhan itu berlarut-larut hingga berbulan-bulan dan kami harus kehilangan dua teman akrab gara-gara berebut kubangan. Sementara itu, membuat kubangan sendiri menjadikan kami saling bahu membahu untuk mempertahankan agar kubangan terus berisi air yang bercampur tanah dan berubah menjadi lumpur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula kami membuat garis pembatas berbentuk lingkaran. Salah seorang mengambil air untuk membasahi tanah yang kami rencanakan sebagai kubangan dan yang lain berebutan menginjak-injak tanah basah itu agar segera menjadi lumpur. Kaki kecil kami beradu cepat menjejak tanah, tangan kami saling memegang pundak teman yang lain agar tidak jatuh, dan bibir kami tidak pernah lepas dari sunggingan senyum bahagia. Senyuman kami berubah menjadi sorak kegirangan bila merasakan grojokan air di kaki kami dan kami pun mempercepat gerak kaki. Begitu terus menerus hingga tanah yang semula kering itu pun berubah jadi lumpur.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian salah seorang dari kami memberikan aba-aba untuk membuat tanggul kecil di sekitar kubangan. Kami segera menghentikan pekerjaan menjejak tanah dan bahu-membahu membuat tanggul kecil. Kubangan yang kami buat ukurannya sangat luas sehingga tidak sebentar membuat tanggul kecil. Hanya anak yang mengambil air tidak mau membantu kami. Dia terus menggerojokkan air ke dalam kubangan. Setiap kali menumpahkan airnya, setiap kali itu pula kami lihat genangan air mengatasi tanggul kecil kami. Kami yang membuat tanggul berulangkali menyuruhnya menghentikan pekerjaan itu. Kata-kata kami sangat keras, namun sambil tertawa. Dia pun tidak berhenti dan semakin bersemangat memenuhi kubangan lumpur itu dengan air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, kami sama sekali tidak bermaksud menyuruh teman kami itu menghentikan pekerjaannya, tetapi kami dongkol melihat hasil pekerjaan kami kurang sempurna dan dapat dirusak oleh dorongan lumpur. Barangkali tidak seperti itu, tetapi kami menikmati bagaimana air lumpur dalam kubangan itu menggeripisi puncak tanggul kecil kami. Karena, kami kadang menggunakan gundukan pasir kering untuk membuat tanggul dan kami memandangnya dengan terpukau melihat pasir kering berwarna coklat terang itu perlahan-lahan basah dan berubah menjadi coklat tua kemudian benar-benar hitam. Keterpukauan itu bercampur kesenangan ketika tanggul kecil kami bocor dan terlihat air menerobosnya keluar, kemudian kami dibuat sibuk untuk mencari jalan keluar bagaimana caranya agar air tidak banyak keluar dan kubangan kami masih penuh dengan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sangat menyenangkan membuat kubangan dan bermain dengan lumpur, apalagi di musim hujan. Teman yang biasa menggerojokkan air ke dalam kubangan akan pensiun dan bergabung bersama membuat tanggul kecil. Hujan membantu kami menciptakan kubangan berisi air dan kami tinggal menjadikannya berisi lumpur dan membuat tanggul kecil tambahan di sekelilingnya. Kami bersekutu untuk bermain dengan alam. Air hujan yang memenuhi kubangan dan rerintiknya yang merapuhkan tanggul kecil kami, seperti tantangan menggairahkan dan memacu kami untuk terus memperkuat danmenguatkan tanggul kecil kami; setelah dewasa kami tahu pekerjaan itu sia-sia karena alam terlalu besar bagi kami yang masih kanak-kanak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami lanjutkan permainan itu dengan sepak bola setelah bosan bermain dengan lumpur dalam kubangan. Sekali lagi, sangat menyenangkan bermain dengan lumpur. Pakaian kami sudah dibasahi lumpur semua, tetapi terasa geli melihat teman yang marah-marah karena dia menggiring bola kemudian dijungkurkan ke lumpur. Dia akan mencipratkan lumpur ke musuhnya dengan cara menendang lumpur, kemudian sepak bola terhenti sebentar sebab kedua kelompok membantu temannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadangkala kami membuat kubangan lumpur di sawah. Karena itu, tidak jarang kami mendengar caci maki pemilik sawah. Dan, kami adalah anak-anak lumpur yang merasa senang bila dimarah-marahi. Kami menjawab amarah itu dengan tertawa terbahak-bahak secara bersamaan dan lari menjauh ketika pemilik sawah itu semakin marah karena merasa kami permainkan. Kadangkala kami tidak lari, tetapi meninggalkan tempat secara perlahan-lahan sambil mengatakan bahwa yang memulai perbuatan itu dan harus bertanggungjawab adalah si anu dan si anu. Semua saling tuduh dan tidak ada satu nama yang muncul sebagai tertuduh yang sebenarnya. Akibatnya, pemilik sawah tidak menemukan siapa yang harus dihukum karena kami mengaku paling benar. Untunglah dia tidak mengerti kalau kami semua sebenarnya bersalah dan tidak mau bertanggungjawab saja. Kami pun pergi meninggalkan pemilik sawah itu terbengong-bengong tanpa bisa berbuat apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa tidak terlupakan adalah ketika kami membuat kubangan di dekat liang semut merah. Seperti biasa, salah seorang mencari air dan kami mulai bekerja menjejakkan kaki di tanah. Kami tidak tahu bila dalam lingkaran yang kami gariskan terdapat lubang semut. Seekor dan dua ekor semut keluar dan menggigit, namun segera kami pencet dan mati. &lt;br /&gt;“Ada lubang semut dalam kubangan, mungkin?!” dugaan salah seorang dari kami setelah berkali-kali kami membunuhi semut-semut kecil itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada!” jawab yang lain sekenanya.&lt;br /&gt;“Kamu sudah memeriksanya?” tanya teman yang menduga tadi.&lt;br /&gt;“Sudah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja kami tidak membenarkan atau menyalahkan salah satu dari mereka. Perdebatan tentang ada dan tiadanya lubang semut hanya memicu perdebatan yang tidak berakhir. Kenyataannya, kami harus berkali-kali menepuk atau menggaruk bagian tubuh yang sakit dan gatal kemudian terlihat bintik-bintik merah. Tetapi, semua itu tidak mengganggu kesenangan kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubangan dan tanggul kecil sudah selesai. Kami tidak menambahkan air ke dalamnya atau membuat lumpur lagi. Kami mengatur badan untuk menyaksikan semut-semut kecil itu berusaha menyelamatkan diri dari genangan air. Kaki kecil mereka mengayuh sia-sia di atas lumpur untuk mencari daratan yang dapat dipijak dan memberikan kesempatan usia lebih panjang bagi mereka. Salah seorang dari kami memusarkan air dalam kubangan dan puluhan semut timbul-tenggelam. Barangkali mereka menjerit-jerit minta tolong dan kami tidak menghiraukannya, sebab perhatian kami tercurah pada bagaimana agar tanggul kecil kubangan itu tidak bocor. Kami menambah ketinggian dan ketebalan tanggul kecil. Lumpur dalam kubangan berpusaran lagi, seperti mengeluarkan gumpalan hitam keruh bercampur bintik-bintik merah kecoklatan tubuh semut-semut; kami percaya kalau semut tidak mempunyai darah dan kami adalah anak-anak yang tidak perlu alasan panjang lebar untuk percaya terhadap sesuatu, bahkan bila perlu kami menutup telinga dari pendapat orang lain agar kepercayaan kami tidak goyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami lupa bagaimana mengakhiri peristiwa itu. Di kemudian hari kami mengenangnya dengan tertawa dan senang. Kami mengulang kejadian-kejadian lucu paling rinci dan terlupakan yang membuat kami semakin terpingkal-pingkal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba kami berhenti tertawa ketika salah seorang dari kami mengatakan, “Bagaimana bila semut-semut itu bersatu dan hanya mengeroyok salah seorang di antara kita?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang dikeroyok?”&lt;br /&gt;“Siapa saja. Karena, kita semua bersalah.”&lt;br /&gt;Kami tidak perlu merisaukan siapa yang harus dikeroyok oleh semut-semut itu. Pertanyaan tentang siapa sejak dulu tidak perlu kami jawab, sebab kami adalah anak-anak yang takut dan tidak mau bertanggungjawab. Kami cukup saling tuduh dan hal itu pasti akan selesai dengan sendirinya tanpa menyeleseikan persoalan. Salah seorang dari kami mulai bercerita tentang anak-anak lumpur seperti kami yang salah seorang dari mereka dikeroyok oleh kawanan semut. Dan benar, cerita itu menghentikan perdebatan tentang siapa tertuduh bersalah di antara kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang dari anak-anak lumpur itu dikeroyok oleh semut-semut yang sengaja mereka siram dengan lumpur bercampur minyak tanah. Tubuhnya bengkak dengan bentol-bentol merah. Bahkan, berdarah-darah sebab jumlah semut itu ratusan hingga ribuan. Teman-temannya yang lain mungkin membantunya, tapi mereka tentu tidak sanggup menelisik sekujur tubuhnya untuk mencari semut yang sembunyi. Setidaknya, mereka tentu kewalahan menghadapi kawanan semut itu. Dia tidak dapat ditolong lagi dan harus dibawa ke dokter. Orang tuanya marah besar mendapati anaknya seorang yang harus mengalami akibat dari perbuatan teman-temannya. Teman-temannya yang lain pun menjadi sasaran dampratannya. Hal itu masih beruntung, karena nasib teman mereka yang dikeroyok semut itu lebih parah. Penderitaannya tidak sekadar sampai di rumah sakit. Ada dua puluh ekor lebih semut masuk ke telinganya dan menggigit bagian dalamnya. Dia mengerang-erang kesakitan sambil memegangi telinganya. Dokter sudah berusaha dengan membiusnya, namun semut dalam telinga itu masuk lebih dalam dan merusakkan bagian tubuhnya hingga anak itu tidak tertolong lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;__________________&lt;br /&gt;Cerita itu membuat kami menjadi tidak mungkin melupakan kenangan tentang lumpur, sebab bagaimana pun kami adalah anak-anaknya.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, Agustus 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5441675162408452479-5791639475737164493?l=haris-delhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/feeds/5791639475737164493/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5441675162408452479&amp;postID=5791639475737164493&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/5791639475737164493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/5791639475737164493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/2008/06/anak-anak-lumpur.html' title='ANAK-ANAK LUMPUR'/><author><name>Haris Abdul Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11211340568889812710</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-PM2xzdR8dq0/ToBnmZOkboI/AAAAAAAAAGM/YrqTu-r-6GA/s220/Haril%2BDel%2BHakim.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5441675162408452479.post-2496625052148997340</id><published>2008-06-24T20:38:00.000-07:00</published><updated>2011-09-26T05:08:51.646-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Haris del Hakim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Surabaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>ANAK-ANAK SRIGUNTING</title><content type='html'>Haris del Hakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin awal musim hujan itu menjatuhkan empat anak burung Srigunting dari sarangnya. Sepasang induknya merasa khawatir, namun sayap mereka terlalu rapuh mengangkat sarang beserta anaknya untuk kembali ke dahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Induk jantan terbang rendah ke bawah, hinggap di bibir sarang, kemudian mengembangkan sayap untuk melindungi anaknya dari hujan, sebentar kemudian ia hinggap di dahan di samping induk betina.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kamu kembali?” tanya Srigunting betina.&lt;br /&gt;“Aku kedinginan,” jawab Srigunting jantan. “Sayapku hampir membeku menadahi rintik hujan.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, kamu memang egois. Tidak punya kasih sayang terhadap anak sendiri.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Srigunting betina terbang ke bawah dan berbuat seperti Srigunting Jantan. Tidak lama kemudian dia kembali ke samping Srigunting jantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kamu kembali?” tanya Srigunting jantan.&lt;br /&gt;“Keadaan anak-anak tidak seperti yang kubayangkan. Tubuh mereka membeku dan paruhnya pucat. Aku tidak yakin mereka bisa bertahan hidup?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seharusnya kamu tetap di sana dan tidak meninggalkan mereka kedinginan,” kata Srigunting jantan menyindir.&lt;br /&gt;“Anakku tidak butuh belas kasihan!” jawab Srigunting betina ketus.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat ekor anak Srigunting saling merekatkan sayap untuk menghangatkan tubuh. Rintik hujan dan udara dingin seakan bersekutu menyerbu mereka. Anak Srigunting pertama berkata dengan paruh menggigil, ”Orang tua kita keterlaluan. Mereka hanya menjenguk kita lalu kembali bermesraan di sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak Srigunting kedua menimpali dengan paruh yang tak kalah menggigil, “Mereka melihat kita sekadar membuktikan kita masih bertahan hidup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan berprasangka buruk!” tukas anak Srigunting keempat. Paruhnya segera mengatup karena takut bertambah dingin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berprasangka buruk bagaimana?” tanya anak Srigunting kedua dengan paruh bergetar. “Kita menyaksikan sendiri apa yang mereka lakukan terhadap keadaan kita yang kedinginan seperti ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya,” sambung anak Srigunting pertama. “Kita seperti bukan anak mereka.”&lt;br /&gt;“Bungsu, bicaralah,” kata anak Srigunting ketiga kepada adiknya.&lt;br /&gt;“Apa yang harus kukatakan?” jawab anak Srigunting bungsu menahan dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bicaralah apa saja tentang orang tua kita!”&lt;br /&gt;“Aku tidak mau berkata apa-apa tentang mereka.”&lt;br /&gt;“Mengapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak Srigunting pertama dan kedua terperangah mendengar tanggapan adik bungsu mereka yang bernada dingin. “Mereka sibuk dengan urusannya sendiri.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak Srigunting pertama dan kedua bersorak, karena merasa memiliki satu lagi pendukung. Mereka berdua segera meledek saudara ketiga yang tidak berpendukung. Udara yang dingin menjadi sedikit hangat. Kelenjar penghasil sel penghangat tubuh bekerja seirama emosi mereka. Tiga anak Srigunting mengutuk induk mereka melalui saudaranya sendiri. Caci maki dan cemooh seperti menjelma bulu tebal yang menghangatkan badan dan menyingkirkan dingin jauh-jauh.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan telah reda. Keempat anak Srigunting masih berkicau. Kedua induknya sesekali terbang rendah mengawasi mereka. Seorang anak berseragam sekolah sedang naik becak sambil berbicara melalui handphone keluaran terbaru. Dia cekikikan dan berkali-kali tertawa renyah. Sementara tukang becak berkali-kali mengusap keringat pada dahinya yang kedinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berhenti sebentar,” kata anak berseragam sekolah itu. Tukang becak gelagapan menginjak rem. Anak itu melompat dari becak tanpa merasa berdosa dan mematikan handphone-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah kaki kecil yang bersih itu bersicepat ke sarang burung Srigunting yang jatuh karena hujan. Dia bersiul-siul riang mendapat hadiah besar.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Srigunting jantan berkata pada Srigunting betina,”Anak-anak kita senang dengan sarang baru itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu saja yang menganggap mereka senang,” jawab istrinya. “Anak bungsu kita masih tetap kurus.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia memang lain dari saudaranya. Dia sangat sulit menyesuaikan diri dengan keadaan baru.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia punya prinsip sendiri. Dan aku juga yakin dia paling menyintai kita.”&lt;br /&gt;“Kamu yakin yang lain telah melupakan kita?”&lt;br /&gt;“Setidaknya terhadapku yang mengerami cangkang mereka selama berhari-hari.”&lt;br /&gt;“Baiklah kita coba.”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak Srigunting sedang bercengkerama dalam sangkar berukuran 2x2 meter. Anak Srigunting pertama telah berbadan gemuk, sehingga sulit terbang dengan lincah. Dia tiba-tiba berteriak yang membuat kaget ketiga saudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa?” tanya anak Srigunting ketiga.&lt;br /&gt;“Aku mendengar kicau induk kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat anak Srigunting itu memasang telinga baik-baik. Tidak berapa lama mereka melihat kelebat burung Srigunting betina di atas sangkar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu induk kita,” kata anak Srigunting kedua.&lt;br /&gt;“Husst! Jangan bicara sembarangan,” bentak anak Srigunting ketiga.&lt;br /&gt;“Ya,” imbuh anak Srigunting pertama. “Siapa tahu dia adalah burung Srigunting lain yang sedang kehilangan anak-anaknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang masih ingat wajah induk kita?” tanya anak Srigunting bungsu. “Aku sendiri sudah lupa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku juga,” jawab tiga anak Srigunting yang lain hampir bersamaan.&lt;br /&gt;“Kalau begitu kita tidak perlu menghiraukannya,” putus anak Srigunting kedua. “Bukankah repot akibatnya bila kita menganggap induk pada Srigunting yang bukan induk kita?”&lt;br /&gt;Ketiga saudaranya mengiyakan pertanyaan itu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana?” tanya Srigunting jantan pada istrinya. Ia merasa kasihan menyaksikan istrinya berkali-kali berkelebat di atas sangkar anaknya, namun tidak ada tanggapan sedikit pun. Ia sendiri sudah lelah berkali-kali berkelebat sejak kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka belum mengenali kita,” kata istrinya.&lt;br /&gt;“Aku menjadi ragu, apakah mereka benar-benar anak kita atau bukan. Apakah kamu yakin mereka adalah anak-anak kita?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku yakin sekali. Kamu masih ingat wajah anak kecil yang memungut sarang dan anak-anak kita? Tadi pagi aku melihat dia keluar dari rumah itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukti itu saja belum cukup.”&lt;br /&gt;“Kamu masih ingat ranting-ranting yang kita ambil dari sarang Manyar dan Emprit? Aku melihat masih ada beberapa lembar di sangkar itu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, aku sedikit percaya. Tetapi, mengapa kamu tidak bicara langsung dengan mereka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu sendiri tahu, mereka tidak menghiraukan keberadaan kita. Aku sudah berkali-kali berkelebat dan berkicau seperti dirimu kemarin, tetapi mereka tidak kunjung menyahutiku.”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kalian tidak merasa aneh?” tanya anak Srigunting ketiga. “Sudah empat hari ini dua ekor Srigunting itu berkelebat berkali-kali di atas sarang kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu salah lihat. Mereka tentu bukan burung yang sama,” kata anak Srigunting kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa bilang mereka burung Srigunting yang berbeda. Lihat ekornya yang terpotong separuh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangkali mereka ingin berkenalan dengan kita?” tanya anak Srigunting pertama coba mengalihkan pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangkali benar kalau mereka itu induk kita, seperti yang kamu katakan beberapa hari yang lalu,” kata Srigunting ketiga pada Srigunting kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku masih belum percaya,” jawab anak Srigunting bungsu. “Kalau benar mereka berdua adalah induk kita, tentu mereka tidak sekadar berkelebat di atas rumah kita ini. Mereka pasti tidak enggan untuk turun lebih dekat kemudian menanyakan keadaan kita atau paruh mereka mencium paruh kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka takut dimasukkan sangkar bersama kita.”&lt;br /&gt;“Bukan takut, tetapi malu.”&lt;br /&gt;“Malu kepada siapa?”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita di sini sudah hampir seminggu. Kita berkelebat-kelebat terus sepanjang hari, namun tidak ada hasilnya,” kata Srigunting betina pada suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu sudah putus asa?” tanya Srigunting jantan.&lt;br /&gt;“Tidak. Aku hanya bosan dengan cara kita. Bagaimana kalau kita tidak sekadar berkelebat, tetapi lebih mendekat ke arah mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu berbahaya, karena kita bisa ditangkap dan dipenjara oleh tuan rumahnya. Aku sudah jenuh menghabiskan tiga setengah tahun usiaku dalam sangkar itu. Lagi pula, tidak sepantasnya seekor induk mengiba-iba untuk diakui sebagai induk oleh anaknya. Biarlah mereka melalaikan kita, tetapi kita tidak pernah melupakan mereka. Lebih penting dari itu, mereka yang harus tahu etika seekor anak burung terhadap induknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan hanya bisa menganggap mereka keliru. Kita sendiri tidak pernah mengajarkan etika seekor anak Srigunting terhadap induknya.”&lt;br /&gt;“Mereka harus belajar sendiri!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua Srigunting itu terus berbantah-bantahan hampir seharian. Pada hari itu mereka tidak sekali pun berkelebat ke sangkar anak-anak mereka. Ketika senja hampir berubah menjadi gelap, mereka pulang sendiri-sendiri tanpa perjanjian apakah akan kembali lagi keesokan harinya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepasang Srigunting itu sudah pergi,” kata anak Srigunting bungsu.&lt;br /&gt;“Dari mana kamu tahu mereka benar-benar pergi?” tanya anak Srigunting pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak kemarin aku tidak melihat mereka berkelebat.”&lt;br /&gt;“Mungkin mereka bersembunyi,” kata anak Srigunting ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat anak Srigunting itu memasang mata dan telinga dengan awas. Sesekali saja mereka bergerak dari dahan buatan untuk sekadar menghilangkan lelah dan bosan.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua ekor Srigunting hinggap di dahan. Mereka saling berjauhan dan membelakangi arah. Srigunting betina di sebelah selatan menghadap ke timur, sedangkan Srigunting jantan di sebelah utara menghadap ke barat. Mereka tidak lagi berkelebat atau berkicau seperti beberapa hari yang lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, beberapa meter dari sangkar terlihat seorang anak kecil sedang bermain game dalam handphone. Di sampingnya seorang separuh baya asik membaca koran. Sesekali dia membenahi kacamatanya. Lelaki itu membenarkan letak kacamatanya kemudian berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kukira itu Srigunting peliharaanku. Tidak salah lagi, itu adalah Srigunting yang lepas enam bulan yang lalu. Rupanya dia sudah pulang?” katanya heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak kecil itu menghentikan permainannya dan melihat ke arah Srigunting yang dimaksud oleh bapaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu masih ingat dengan Srigunting kita, bukan?” tanya Lelaki setengah baya itu pada anaknya. “Ekornya yang terpotong itu digunting oleh ibumu agar tidak tertukar dengan Srigunting yang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak kecil itu mengawasi Srigunting di atas dahan sambil mengingat-ingat sesuatu. Lelaki setengah baya sudah tidak tahan melihat kelambanan anaknya dan menyuruhnya bersicepat untuk menangkap Srigunting yang ekornya terpotong.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, agustus 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5441675162408452479-2496625052148997340?l=haris-delhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/feeds/2496625052148997340/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5441675162408452479&amp;postID=2496625052148997340&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/2496625052148997340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/2496625052148997340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/2008/06/anak-anak-srigunting.html' title='ANAK-ANAK SRIGUNTING'/><author><name>Haris Abdul Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11211340568889812710</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-PM2xzdR8dq0/ToBnmZOkboI/AAAAAAAAAGM/YrqTu-r-6GA/s220/Haril%2BDel%2BHakim.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5441675162408452479.post-493761097300398477</id><published>2008-06-24T20:32:00.000-07:00</published><updated>2011-09-26T05:07:14.614-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Haris del Hakim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Forum Sastra Lamongan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Perempuan Paling Sunyi</title><content type='html'>Haris del Hakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kertarajasa, pada masa muda dikenal sebagai Ken Arok, tergeragap dari tidurnya. Ujung keris telah menempel di ulu hatinya. Kesadaran yang baru saja diperolehnya hilang sesaat kemudian kembali dan digenggamnya erat-erat. Dalam keadaan apa pun ia tetap seorang raja, berandal yang digelari Arok, dan panglima pasukan yang pernah menikamkan kerisnya ke jantung Tunggul Ametung.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya lampu minyak jarak di sudut ruangan membantu pandangan matanya yang sudah tua untuk mengenali anak muda yang sedang menghunuskan keris ke ulu hatinya. Ia ingat puluhan tahun lalu saat ia berbuat sama terhadap ayah pemuda itu. Kini ia harus berganti peran. Dia terbaring tak berdaya sebagaimana ayahnya, Tunggul Ametung. Anak tiri yang dibesarkan oleh kasih sayangnya itu sedang memerankan dirinya. Bukankah dulu dia juga mencecap kasih sayang yang dilimpahkan oleh Tunggul Ametung, meskipun atas saran dari Mpu Lohgawe? Sekarang, ia memetik karma dari pohon yang ditanamnya puluhan tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia masih terbaring. Tangannya meraba ke samping kanan dan tidak mendapati siapa-siapa. Ia tersenyum dan bertanya. “Ke mana, ibumu?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak muda itu merunduk. Lengan kirinya menempel di leher ayah tirinya. Bibirnya berbisik dengan perlahan sambil mengucapkan kata-kata yang perih. “Mengapa kautanyakan perempuan yang kaupaksa menyintaimu kemudian kausakiti hatinya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki tua di atas ranjang pualam itu masih bisa menunjukkan wajah bersinar, meskipun tekanan lengan anak muda itu perlahan mulai menyesakkan nafasnya, dan ujung keris semakin menyarangkan mata tajamnya. Usia yang dijalaninya telah mengajarkan segala macam jenis kematian manusia. Bahkan, beberapa kali ia membantu malaikat maut mencabut nyawa manusia dan tidak bisa lagi menghitung berapa jumlahnya. Ia juga tahu suatu saat akan menghadapi kematian dengan cara yang tidak pernah terbayangkan olehnya. Dan, kematian di ujung keris yang pernah ditikamkan pada akuwu itu pula yang akan mengakhiri hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak pernah menyakitinya,” kata Lelaki itu. “Akulah yang membebaskannya dari belenggu tulang rapuh bapakmu dan mengangkat derajatnya sejajar dengan para permaisuri raja. Bukankah ia ceritakan semua kepadamu dan menjelaskan dosa-dosa bapakmu, seperti yang selalu dikeluhkannya kepadaku di setiap malam?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak muda itu geram. Ia semakin menindih tubuh tua yang tidak berdaya. Bibirnya mencibir, “Aku adalah samudera tumpahan jeritan luka hatinya. Sejak dalam buaian kudengar lagu-lagu perih wanita yang dikhianati orang yang pernah dianggap menyintainya. Ia tanamkan pula benih dendam kematian ayahku dan setia menyiraminya sepanjang umurku. Apakah wanita seperti itu kaukatakan terbebas dari belenggu dan menepuk dada di atas singgasana permaisuri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anusapati!” kata sang raja gusar. “Katakan padaku dosa apa yang kulakukan terhadap dirinya? Luka hati seperti apa yang menuntun seorang istri meninggalkan ranjang tidur suaminya?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kertarajasa! Seperti inikah pertanyaan ayahku, Tunggul Ametung, sebelum kautikamkan kerismu ke jantungnya?” tanya Anusapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki tua itu tertawa. Anusapati buru-buru menggeser lengan kirinya ke pangkal leher raja yang tinggal beberapa saat lagi umurnya. Ia kuatir ada prajurit yang mendengarnya dan menimbulkan kecurigaan. Sementara lelaki tua itu tersengal-sengal. Kedua tangannya yang bebas sengaja tidak digunakan untuk melakukan perlawanan. Dia belum tentu kalah menghadapi anak kemarin sore yang sedang terbakar oleh dendam, tapi ia merasa sudah tua untuk selalu mengelak dari karma-karma yang pernah dilakukannya di waktu muda. Ia sudah mendapatkan semua warna hidup seorang manusia. Ia pernah menjadi berandal yang malang melintang di tengah kegelapan hutan, juga pernah menjadi pimpinan prajurit yang disanjung-sanjung kedatangannya. Ia telah merasakan sebagai anak terbuang dan terlantar, juga merasakan sebagai raja yang sabdanya dinantikan setiap orang. Ia pun telah mendapatkan Ken Dedes yang diperebutkan oleh para Adipati hingga Raja Kediri, bahkan sebagai lelaki telah mendapatkan semua wanita yang diinginkannya. Ia sudah mengalami nelangsa dihinakan sebagai gelandangan tanpa kampung halaman, juga mengalami puja sanjung sebagai raja Singasari. Kehidupannya tinggal disempurnakan oleh kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anusapati!” kata Kertarajasa dengan tenang. “Tunggul Ametung mati di tangan Kebo Ijo dan bukan tanganku. Takdir telah menentukan seperti itu dan takdir pula yang mengangkatku sebagai pengganti Tunggul Ametung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Anusapati yang tersenyum. “Aku percaya pada bibir wanita yang rahimnya melahirkanku daripada mulutmu. Seperti yang pernah kaukatakan, tidak ada yang lebih jujur dari perempuan yang sakit hati.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anusapati belum menikamkan kerisnya. Ia ingin membuat ayah tirinya itu menghiba untuk selembar nyawanya. Ia ingin menyaksikan bagaimana seorang raja yang selalu dimintai segala sesuatu, seperti dewa, memohon-mohon padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rupanya ia sudah menceritakan semuanya kepadamu,” kata Kertarajasa. “Apakah ia juga menceritakan ke mana perginya saat ayahmu tewas di ujung keris?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak pernah menanyakannya, tapi aku berjanji memberitahu jawabannya padamu saat kau sudah menjadi abu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kertarajasa tersenyum tipis. Ia ingat pada saat remaja sering bertindak gegabah. Ia tertawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang ceritakan sakit hati seperti apa yang membesarkanmu?” tanya Kertarajasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kertarajasa! Begitu berartikah sakit hati yang dipendam perempuan itu hingga lebih kaupentingkan dari nyawamu sendiri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayam jantan berkokok. Dinding-dinding kraton masih tetap beku dalam dingin. Tidak ada seorang prajurit pun yang memberikan tanda kehadirannya melalui suara langkah kaki. Anusapati telah mengatur semuanya. Ia belajar dari ibunya bagaimana Ken Arok menyusun rencananya selama berbulan-bulan demi menghunuskan keris ke jantung ayahnya. “Bahkan, ia juga merencanakan berapa orang yang harus menangis atas meninggalnya ayahmu,” begitu kata ibunya ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kertarajasa tersenyum mendapat tanggapan seperti itu. “Ya,” jawab Kertarajasa dengan nada bicara masih tenang dan berwibawa. “Sakit hati itu tentu sangat perih dan meremukredamkan hatinya, hingga waktu puluhan tahun tidak sanggup menghapuskan atau mengutuhkannya kembali. Aku bisa merasakan senggukan tangisnya melalui bibirmu. Tetapi, aku ingin sebelum berakhir hidupku kuketahui semua dosa yang pernah kulakukan. Biarlah aku tahu siapa diriku pada saat-saat menjelang sekaratku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah semua itu lebih berarti dari kerajaan yang kaubangun dengan darah ribuan orang ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kertarajasa tidak menyalahkan atau membenarkan. Dia memberikan nasehat, “Anusapati, kekuasaan tidak pernah abadi di tangan seseorang. Kekuasaan direbut, dipertahankan, diwariskan, atau diberikan secara paksa kepada orang lain. Kita tidak bisa memaksa diri untuk selalu menggenggamnya. Manusia semakin tua sementara orang-orang muda terus lahir ke dunia. Yang tua harus merelakan diri digantikan yang lebih muda. Pada akhirnya, manusia baru sadar bila menghadapi maut sendirian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anusapati menyimak ungkapan ayah tirinya itu. Ia tidak memungkiri kewibawaan dan kebijaksanaannya. Hanya bayang-bayang ayahnya yang ia gambarkan di kepalanya yang selalu mengatakan bahwa ia tidak dapat berdusta bila lelaki itu adalah pembunuh ayahnya. Setiap kali bertemu dengannya, ia merasa seperti arang yang dilemparkan ke dalam tungku. Semakin bertambah umurnya semakin membara keinginan untuk membalaskan sakit hati ayah dan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kertarajasa seorang raja yang tidak mengenal gentar. Dalam keadaan leher tertekan lengan dan ujung keris yang sewaktu-waktu menusuk ke ulu hatinya, ia dapat berbicara lancar tanpa gagap sedikit pun. “Anusapati! Sebentar lagi matahari akan terbit. Lekas katakan sebelum tindakanmu ini diketahui oleh orang lain dan kau tidak dapat membalaskan dendam ayahmu. Bahkan, kamu sendiri yang akan dipancung di alun-alun kota dan tidak ada lagi yang kalian andalkan untuk membalas dendam kepadaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anusapati tertawa tanpa menggerakkan gerahamnya. “Inikah kekuatanmu terakhir sebagai seorang raja, Kertarajasa? Kau andalkan sisa-sisa kepercayaan dirimu dengan mengancamku. Kamu boleh memilih, kukatakan sendiri atau perempuan itu yang akan mengatakannya kepadamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anakku Anusapati,” kata Kertarajasa dengan nada kebapakan. “Waspadalah terhadap dirimu sendiri. Jangan sekali-kali kemenangan membuatmu lupa diri dan sewenang-wenang, apalagi belum berada dalam genggaman tanganmu. Kamu pemuda tangguh yang sering bertindak sembrono. Jangan sia-siakan kesempatan yang diberikan kepadamu. Hunjamkan keris itu segera sebelum matahari terbit. Apakah kamu tidak mendengar talu lesung para petani di kejauhan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu melepaskan tekanan lengan kirinya. Ia memandangi wajah yang selalu dipanggilnya sebagai ayah. Ia tidak pernah merasa terbedakan dari Tohjaya. Batinnya berbisik, “Mengapa orang tua adalah yang meneteskan darahnya di tubuhku dan bukan yang memberikan kebaikan-kebaikan?” Barangkali benar kata ayah tirinya itu. Ia juga menjalani garis takdir untuk membunuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau telah menikahi Uma dan seperti ini takdir yang harus kujalani,” jawab Anusapati. “Perempuan itu sering menerawang ke langit dan menyebut nama ayahku bila perih pengkhianatanmu melintas di batinnya. Ia bisa memaafkanmu saat kaubunuh Tunggul Ametung, tapi ia terlalu sakit dan menderita ketika mendengar Tohjaya menangis. Tidakkah kau perhatikan tubuhnya yang makin kurus dan kecantikannya yang berubah menjadi dongeng?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anusapati menitikkan air mata. Begitu pun lelaki yang berbaring di hadapannya. Tangan yang dulu kekar itu mengusap air bening di sudut matanya dengan jari telunjuk. Ia memandang anak tirinya yang memegang keris terhunus. “Katakan kepadanya bahwa Ken Arok minta maaf,” katanya penuh penyesalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anusapati mengangguk. Ia melihat wajah ayah tirinya yang pasrah, menunggu ujung keris di tangannya yang akan menikam ulu hatinya. Dengan tangan gemetar Anusapati menikamkan keris pusaka pemberian ibunya itu. Ia pejamkan mata menyaksikan sang raja yang tersenyum menyambut maut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anakku,” kata Kertarajasa. “Kuwariskan kerajaan ini tanpa dendam.”&lt;br /&gt;Anusapati mengangguk. Ia tidak bisa berkata apa-apa hingga tidak terdengar lagi suara nafas. Perlahan ia membuka kedua matanya. Setetes air mata mengalir bersamaan hulu keris yang ditarik keluar dari dada pembunuh ayahnya. Darah menyembur dari lubang tikaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah, maafkan aku,” kata Anusapati menyarungkan kerisnya yang masih berlumuran darah.&lt;br /&gt;Lelaki itu mengangguk sangat pelan sambil memejamkan mata. Kepalanya terkulai.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Januari 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5441675162408452479-493761097300398477?l=haris-delhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/feeds/493761097300398477/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5441675162408452479&amp;postID=493761097300398477&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/493761097300398477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/493761097300398477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/2008/06/perempuan-paling-sunyi.html' title='Perempuan Paling Sunyi'/><author><name>Haris Abdul Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11211340568889812710</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-PM2xzdR8dq0/ToBnmZOkboI/AAAAAAAAAGM/YrqTu-r-6GA/s220/Haril%2BDel%2BHakim.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5441675162408452479.post-4747823511342617142</id><published>2008-06-24T20:26:00.000-07:00</published><updated>2011-09-26T05:06:05.223-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Haris del Hakim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Surabaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>MATA YANG TEDUH</title><content type='html'>Haris del Hakim&lt;br /&gt;--Surya, bulan Agustus 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan itu berkelok sangat tajam. Sapi’i terlambat membanting setir mobilnya, menabrak pohon, dan beberapa saat kemudian dia sudah terbaring di rumah sakit; dadanya dijahit dan kedua matanya harus ditutup perban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata bagi Sapi’i sangat penting artinya. Karena, hampir semua orang memuji matanya. Sorotnya teduh, bulunya lentik, serta lirikannya meruntuhkan jantung siapa pun yang memandangnya. Salah satu buktinya adalah istri yang cantik dan terpaut lima belas tahun darinya. Hanya berbekal mata itu pula ia terbilang sukses dalam pekerjaan sebagai pialang. Persoalan jual beli yang menjadikannya sebagai perantara jarang mendapatkan masalah. Mulai dari rumah, tanah, kendaraan, dan apa saja yang bisa diperantarai.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapi’i menggerakkan tangan hendak membuka perban di kepala, namun istrinya segera mencegah dan memekik, “Kamu sudah sadar, Mas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa aku di rumah sakit?” tanya Sapi’i dengan nada keras. “Bukankah kamu tahu aku paling alergi dengan bau rumah sakit?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Sapi’i yang muda itu menjawab dengan tangisan. Dia tahu betapa sakit hati Sapi’i kalau tahu mata kesayangannya tidak berfungsi lagi. Ketika Sapi’i mengulang pertanyaannya lagi, goncangan tubuhnya tak tertahankan hingga menekan bagian dada Sapi’i yang baru dijahit. Sapi’i menjerit, “Mengapa sekujur tubuhku diperban?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Sapi’i makin keras menangis. Untunglah pintu terbuka dan seorang dokter muda yang tampan tersenyum pada istri Sapi’i. Bibirnya melontarkan pertanyaan dengan nada lembut, “Sudah sadar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Istri Sapi’i mengelus dada yang diperban namun matanya menatap dokter muda itu. Mereka terlibat dalam pembicaraan tentang luka Sapi’i. Sapi’i jengah diperbincangkan dan menanyakan langsung keadaannya. Seperti dokter-dokter lain, dokter muda itu meyakinkan Sapi’i bahwa lukanya baik-baik saja dan rumah sakit ini akan sanggup memberikan pengobatan hingga sembuh, meskipun tidak secara total. Tidak lupa dokter muda itu juga menyebut kekuasaan Tuhan tentang cobaan dan menyuruh Sapi’i bersabar. Begitu pula sarannya kepada istri Sapi’i. Sapi’i menanyakan berapa perkiraan biaya perawatan dan dokter muda itu tidak langsung memberikan jawaban berapa jumlah nominal yang harus dikeluarkan, melainkan dia bercerita panjang lebar tentang kemungkinan-kemungkinan luka Sapi’i yang semakin parah bila dibiarkan. Tentu saja, dengan bahasa kedokteran yang tidak dipahami maksudnya oleh Sapi’i dan istrinya. Setidaknya, mereka berdua bisa membayangkan bahwa luka yang dialami Sapi’i  tidak bisa dianggap remeh dan tentu saja ongkosnya mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapi’i merasa bosan dengan penjelasan dokter muda itu dan menukas dengan pertanyaan berapa rupiah dia harus membayarnya. Dokter muda itu memperdengarkan seringai ramah, “Belum bisa dipastikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa dongkol menghantam dada Sapi’i. Untuk tahu satu kalimat pendek saja dia harus mendengar ceramah panjang lebar tanpa mengerti maksudnya pula. Ketika terdengar pintu kamar ditutup ia pun bernafas lega. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Jutaan rupiah telah keluar dari tabungan Sapi’i, bahkan tak tersisa lagi, namun semua itu tidak dapat mengembalikan matanya yang teduh. Dunianya pun berubah. Selama ini orang-orang berduyun-duyun meminta pendapat dan nasehat padanya, dunia pun gemerlap dengan lampu kerlap-kerlip dan bermacam ragam manusia, dan kesibukan seperti hiburan yang memukau serta menyeret para pemainnya dalam arus tak terbendung. Sekarang dia sendirian ditinggalkan sanakkerabat dan teman-temannya dalam dunia gelap yang hanya dihuni oleh beberapa suara di sekitarnya saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir tiga tahun Sapi’i menjalani dunia gelap dan tergantung pada orang lain. Dia hanya mengandalkan telinganya yang perlahan mulai rusak digerogoti usia. Hanya suara istrinya yang bisa dikenali dengan baik dan beberapa sanak kerabat yang masih sering berkunjung padanya. Sementara mereka yang hanya dekat ketika dia menggenggam sukses sudah tidak pernah menghubunginya lagi dan terlupakan oleh Sapi’i. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekayaan Sapi’i yang dikumpulkan selama puluhan tahun sudah ludes untuk biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari. Beberapa badan usahanya telah berpindah tangan. Tahun pertama usaha transportasi, kemudian pertokoan, disusul perumahan, lantas swalayan-swalayan, servis mobil, dan akhirnya tinggal rumah yang ditempatinya yang tersisa. Istri Sapi’i pontang-panting mengatur simpanan dan aset yang kian tipis. Apabila sampai tiga bulan ke depan tidak ada penghasilan tetap maka bukan tidak mungkin bila rumah mereka pun terjual. Keadaan itu diperparah dengan teman-teman istri Sapi’i yang mulai mencemooh keluarganya sebagai orang bangkrut. Sapi’i hanya bisa menghiburnya dengan nasehat-nasehat untuk bersabar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Pagi itu sesuatu yang luar biasa terjadi. Mata Sapi’i yang buta akibat kecelakaan dapat melihat kembali. Sorak kegirangan, rasa tidak percaya, puji sukur berkali-kali, terbalut menjadi satu. Dia memuji Tuhan yang mengembalikan matanya yang teduh. Dia memanggil istrinya untuk membagi kebahagiaan tak disangka itu. Ia berteriak berkali-kali tetapi tidak ada sahutan. Dia keluar dari kamar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liku-liku lorong ruang masih dapat dikenali meskipun dia merasa asing, seperti seseorang yang telah lama meninggalkan rumah dan kembali lagi. Rumah Sapi’i masih bersih. Istrinya perempuan yang rajin meskipun bertahun-tahun Sapi’i menjadi bebannya; sebagai orang buta dan bangkrut. Dia terus berteriak memanggil istrinya. Apa lagi yang lebih membahagiakan dari seorang bangkrut selain kembalinya modal utama dan harapan untuk bangkit kembali? Selama lima tahun dia kehilangan mata yang teduh dan sekarang kembali lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lily!” teriak Sapi’i dengan keras ketika mendapati istrinya sedang memotong rumput di taman..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Sapi’i tampak kaget mendengar suaminya memanggil dirinya dan perlahan-lahan mendekatinya. Dia masih juga belum percaya ketika Sapi’i  menunjukkan kedua matanya yang tak lagi terpejam dan berfungsi dengan baik. Sapi’i mengatakan kalau ada tanah di jidat istrinya sebagai bukti kalau dia sudah bisa melihat lagi. Istri Sapi’i meraba bagian tubuh yang dimaksud dan mendapati sepotong tanah basah di jidatnya. Ia melepas gunting rumput dan memeluk suaminya erat-erat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Sapi’i buru-buru melepaskan pelukannya kemudian masuk ke rumah. Tangannya mengambil buku telepon dan beberapa saat kemudian ia sibuk berbicara dengan teman-temannya. Ia menghubungi siapa saja dan mengatakan suaminya sudah dapat melihat lagi, tentu saja sambil mengungkapkan harapan bahwa sebentar lagi masa kejayaan akan terulang kembali. Mata yang teduh itu akan melindungi dirinya dan nama baiknya yang hampir suram itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini memang mukjizat,” kata istri Sapi’i. “Bapak benar-benar orang baik. Sejak dulu sudah saya katakan kalau kami akan mengulang kejayaan itu. Pada saat musibah ini menimpa suamiku, saya yakin ini ujian dari Tuhan. Saya akan bersabar dan kesabaran itu telah membuahkan hasil sekarang.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setengah hari istri Sapi’i sibuk menelepon ke sana kemari. Dia juga menambahkan kalau nanti malam ada sukuran sederhana. Sapi’i berkali-kali memperingatkan bilamana biaya pulsa akan membengkak bulan ini, tetapi dengan enteng istrinya menjawab, “Tenang saja. Nanti malam semua pasti sudah kembali. Matamu yang teduh itu akan mengeruk kekayaan harta mereka.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sore hari banyak teman-teman lama Sapi’i yang berkunjung ke rumahnya. Mereka memberikan ucapan turut berbahagia atas kesembuhannya. Mereka yang selama ini menghilang ketika Sapi’i menderita kebutaan mengemukakan alasan masing-masing. Mereka juga mengemukakan upaya-upaya yang dilakukan demi membantunya. Sapi’i mengangguk sambil tersenyum tipis. Dia mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas semua itu. Seperti yang dikatakan oleh istrinya; di antara mereka ada yang menyelipkan amplop, yang tergesa-gesa menggenggam lembaran ratusan ribu, ada juga yang meletakkan Bilyet Giro ke meja Sapi’i. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika semua sudah pulang, istri Sapi’i cepat-cepat mengumpulkan amplop dan surat berharga yang ada. Dia menghitung jumlahnya dan bersorak gembira karena hanya dalam semalam ia mendapatkan ratusan juta rupiah. Dia kembali mengatakan kalau kejayaan itu akan kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat, Pa. Sinar matamu yang teduh telah berfungsi kembali menjadi modal utama kita. Dalam semalam saja telah terkumpul uang sedemikian banyak. Tatapan matamu berhasil mengetuk pintu hati semua orang. Tidak percuma aku bersabar selama ini.” Ungkapan itu disusul dengan penjelasan bagaimana menderitanya perempuan itu; mulai dari dihina teman-teman hingga harus ke sana kemari untuk menawarkan perusahaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita sudah tua, Lily,” komentar Sapi’i dengan nada menasehati. “Lihat saja rambutmu sudah ditumbuhi uban.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa urusannya dengan usia. Uang tetaplah uang. Kekayaan tetaplah kekayaan,” jawab istrinya sambil mengibaskan uang di tangan kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapi’i celingukan mencari sesuatu. Istrinya menanyakan apa yang dicarinya. “Aku ingin bercermin agar tahu kalau usiaku sudah tua.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan nada ketus istri Sapi’i menjawab, “Cerminnya sudah kujual. Untuk apa lagi cermin bila kecantikanku tidak ada yang menikmati lagi?! Lumayan harganya, cukup untuk kebutuhan kita seminggu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Sapi’i menawarkan kaca di wadah bedaknya. Sapi’i mengambilnya dan segera berkaca. Pertama kali yang ditatap adalah matanya. Dia sudah rindu melihat sinar matanya yang teduh. Dulu dia merasa sangat percaya diri setiap kali habis melihat keteduhannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, betapa terkejutnya Sapi’i ketika melihat sorot matanya bukan lagi sorot mata yang teduh dan mengayomi orang lain, melainkan sorot mata yang mengiba pada orang-orang yang melihatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, juli 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5441675162408452479-4747823511342617142?l=haris-delhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/feeds/4747823511342617142/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5441675162408452479&amp;postID=4747823511342617142&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/4747823511342617142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/4747823511342617142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/2008/06/mata-yang-teduh.html' title='MATA YANG TEDUH'/><author><name>Haris Abdul Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11211340568889812710</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-PM2xzdR8dq0/ToBnmZOkboI/AAAAAAAAAGM/YrqTu-r-6GA/s220/Haril%2BDel%2BHakim.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5441675162408452479.post-5158373235823022241</id><published>2008-06-24T20:19:00.000-07:00</published><updated>2011-09-26T05:04:01.824-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Haris del Hakim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kediri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>PERNIKAHAN DUA BULAN</title><content type='html'>Haris del Hakim *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purwani menjatuhkan dua butir jagung di atas tanah yang telah di-cebloki. Angin sawah musim kemarau yang panas menembus kain bajunya. Keringat menetes dari dahinya. Kulitnya yang sawo matang tampak semakin gelap mendapatkan sinar pantulan dari tanah yang coklat. Sementara itu, suaminya terus menjatuhkan batang kayu yang berfungsi untuk membuat lubang di atas tanah. Pandangan matanya terus ke bawah.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menikah dua bulan yang lalu. Bagi mereka bulan madu hanya berumur seminggu dan selebihnya adalah kembali bekerja, memeras keringat untuk mencukupi kebutuhan mereka sendiri. Tidak ada yang luar biasa dalam pernikahan. Seperti sendawa. Nafas berhenti sejenak kemudian mengalir kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pagi mereka telah bekerja dan baru separuh lahan yang tertanami. Mereka seperti sengaja menentang panasnya matahari dan menakar kekuatan kulit kakinya. Kaki-kaki mereka yang telanjang terus melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ndalu, aku lelah,” ujar Purwani menyeka keringat di dahinya.&lt;br /&gt;Pandalu menoleh ke belakang dan melihat keringat yang berjatuhan dari dahi istrinya. “Istirahatlah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, kita belum selesai menaburkan benih ini.”&lt;br /&gt;“Istirahatlah sebentar dan nanti lanjutkan kembali. Biarkan aku nyebloki guludan ini sampai selesai dan kubantu menanam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purwani memberi tanda batas tanah yang telah ditanaminya dengan tonggak jagung yang masih tersisa dari panen sebelumnya. Ia melangkah ke pematang, di bawah rimbun pohon pisang. Didudukkannya tubuhnya yang ramping. Ia memandang suaminya, mengikuti irama langkah kaki dan batang ceblok yang jatuh. Satu dua. Satu dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan muda itu pun membuka kain penutup makanan yang dibawanya dari rumah. “Ndalu, kita makan dulu,” teriaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandalu menjawab dengan pandangan yang terus ke bawah, seakan takut jatuhnya kayu di genggaman tangannya tidak tepat di atas kowakan. Sedangkan istrinya telah memasukkan nasi jagung ke dalam mulutnya. Sayur lodeh dan ikan asin terasa nikmat di mulutnya, apalagi angin yang berubah semilir begitu bersentuhan dengan pepohonan pisang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, Pandalu merasa lelah dan menyusul istrinya untuk istirahat. Ia beranjak ke tempat istrinya. Dibiarkan saja istrinya yang bersandar di batang pohon pisang. Ia pandangi wajah manis yang dipujanya sejak setahun lalu. Masa-masa bunga bersemi ketika jatuh cinta telah menjelma keberanian dan membuat mereka harus menjalani kenyataan. Kehidupan suami istri seperti penyerbukan putik dan kembangsari yang dihembus oleh angin. Terkadang hanya sejumput yang didapatkan dan berbuah bogang, namun tidak ada yang berharap seperti itu. Semua petani berharap bahwa tanamannya harus tumbuh dengan subur dan berisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandalu tidak mau membangunkan istrinya. Ia membuka sendiri kain penutup makanan dan mulai memasukkan nasi jagung itu ke mulutnya. Decak-decak pelan terdengar, mengiringi gerakan bibirnya yang terbuka saat melahap makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasi jagung dalam bakul itu pun tinggal separuh. Ia mengakhiri makan dan matanya mencari-cari botol air minum kemasan yang telah diisi dengan air tanakan istrinya. Ia bersedah-sedah merasakan pedas sayur lodeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bertanya pada istrinya, “Wan, di mana minumnya.”&lt;br /&gt;Purwani tidak memberikan jawaban. Angin yang berhembus seperti membuatnya semakin menikmati keadaannya. Pandalu coba berdiri dan melengok ke sana kemari, mencari air. Tetapi, air yang dicarinya seakan sengaja sembunyi begitu tahu ia diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wan, di mana air minumnya,” tanya Pandalu kembali.&lt;br /&gt;Tetapi, tetap saja tidak ada jawaban. Pandalu coba menyentuh tangan istrinya. Lemas. Perempuan yang dicintainya tidak memberikan tanggapan apa pun. Dingin. Pandalu coba menggoyang bahu istrinya dengan tangan kiri, tapi perempuan itu tidak juga membuka matanya. Pandalu semakin gelisah. Ia letakkan piring ke tanah kemudian membersihkan tangannya yang kotor dengan mengusapkan ke batang pohon pisang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki berkulit coklat itu menggoyang-goyang tubuh istrinya lebih kuat dengan kedua tangannya. Perempuan itu belum juga bergeming. Benak Pandalu penuh dengan bayangan-bayangan yang menakutkan. Perpisahan sepanajng kehidupan yang akan dijalaninya. Betapa menyakitkan. Putik akan terbang sesuka hati menuruti ke mana arah angin, tanpa keyakinan sebonggol jagung yang ranum setia menunggunya. Pandalu meraba hidung istrinya, mencari udara yang keluar masuk sebagai tanda kehidupan. Aliran udara itu begitu lemah, seperti angin yang terhadang rerimbun dedaunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wan, bangun!” jerit Pandalu. &lt;br /&gt;Seperti isyarat yang diterimanya begitu saja, ia mendekap tubuh istrinya. Tetes air mata mulai membasahi kelopak matanya dan jatuh ke dada istrinya. Tetesan itu semakin lama kian deras dan tidak terbendung lagi. Tangis yang perlahan berubah menjadi sesenggukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wan, bangun!”&lt;br /&gt;Entah kepada siapa kata itu ditujukan. Sebujur tubuh yang didekapnya benar-benar tidak menghirup udara. Perempuan yang bersedia setia menjadi istrinya hanya menjadi tubuh yang lemas dan perlahan mulai memucat. Burung kutilang yang berkicau seakan telah menyanyikan lagu duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wani, mengapa kamu tinggalkan aku sendirian.”&lt;br /&gt;Gairah yang semula penuh gelisah dan cemas telah berubah menjadi ratapan. Ia hendak mengutuk waktu yang tidak mau bersekutu dengannya untuk menikmati kebahagiaan. Seperti masih tidak percaya, ia memandang wajah istrinya. Bibir coklat tua itu tersenyum dan mengenangkan kalimat yang pernah dikatakannya saat mereka berjanji untuk mengikat kasih cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wani, kamu harus berjanji untuk tidak menangis. Walau seberat apa pun cobaan yang akan menghadang kita, kita harus tersenyum.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perempuan yang berada di dekapannya itu yang memberikan jawaban, “Ya, kamu juga tidak boleh meneteskan air mata atas apa pun yang menimpa kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kembang cinta bersemi tentu jauh dari musim gugur. Ia mencubit pipi istrinya dan berkata, “Tidak! Aku tidak akan menangis, karena yang kupuja telah kutanam dalam hatiku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian mereka tertawa bersama.&lt;br /&gt;Pandalu tersenyum getir. Betapa pahit rasanya menahan air mata dari dada yang bergemuruh. “Aku tidak akan menangis, Wani.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ladang-ladang senyap tanpa manusia. Panas matahari telah menyuruh petani-petani tua yang mudah lelah agar segera pulang. Petani-petani muda hanyalah nama yang tidak dapat membuat seseorang bangga kepada temannya. Lagipula, tanah-tanah sudah tidak berharga dan mendapatkan air mesti bersusah payah dengan biaya yang tidak sedikit, sementara panen bukan harapan yang menyenangkan. Hanya keyakinan bahwa alam pun tidak sudi hanya sekedar sebagai tempat berpijak bagi cakar-cakar beton, yang membuat Pandalu dan Purwani mempertaruhkan hidupnya. Hanya kekuatan cinta yang mengajari mereka cara menanam dengan indah, seperti pula tanaman yang mengajari mereka cinta yang tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandalu membujurkan tubuh istrinya. Disedekapkannya kedua belah tangan. Matanya terjenak pada butir-butir kecil warna merah di sela jari tangan kanan istrinya. Ia menatap tidak percaya dengan mendekatkan tangan itu lekat ke depan matanya. Nafasnya begitu berat ditarik dan dihembuskan. Setets air matanya jatuh dan selagi masih mengalir di pipinya segera diseka dengan bahunya yang hitam kekar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kamu tidak mencuci tanganmu, Wan?” bisik lirih Pandalu. “Benarkah perutmu sudah sangat lapar, sehingga kamu lupa racun itu akan membunuhmu perlahan-lahan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia seperti berbicara pada angin dan tak pernah ada jawaban. Ia menyesal, mengapa tidak menyuruh istrinya untuk mencuci tangan, karena fungisida yang ditaburkan pada benih jagung bukan hanya untuk membunuh tikus, namun juga makhluk hidup. Perlahan-lahan sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi tidak boleh ada air mata yang menetes, sepahit apa pun kenyataan yang harus dijalani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandalu menyedekapkan tangan istrinya dan menutupinya dengan sarung. Tubuh itu telah bersentuhan erat dengan tanah dan ia di ambang bimbang antara menunggu hingga seseorang datang dan memberitahukan kematian istrinya ke rumah atau pulang dan membiarkan tubuh istrinya dirayapi oleh semut-semut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan setia di sini sampai senja sekalipun, sebab aku percaya petani pun setia mengunjungi ladangnya di waktu senja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia duduk di samping istrinya, tepat di sebelah kanan kepalanya. Doa-doa dilantunkan. Mohon ampun dipanjatkan. Segala khilaf kiranya lumrah. Manusia tidak lebih sehelai rambut yang kerap goyah dihembus angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi tidak boleh ada air mata yang menetes, sepahit apa pun kenyataan yang harus dijalani. Apalah doa bila hanya ratapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandalu bergegas meninggalkan istrinya kemudian mengambil wadah benih dan melanjutkan sampai di mana istrinya tadi menanam. Batinnya terbentang lapang seluas padang Kurusetra, medan pertempuran Pandawa dan Kurawa. Dia bukan Pandawa atau Kurawa. Dia adalah Kurusetra yang tidak hendak berpihak kepada yang kalah dan menang. Dia hanyalah saksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum genap ia menjatuhkan jagung di atas ceblokan yang dibuatnya, Pandalu menumpahkan bulir benih di wadah dan menimbunnya di dalam tanah. Kemudian ia pergi ke arah istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wani, aku sudah membuang benih beracun itu. Kalau nanti benih yang kamu tanam telah tumbuh, maafkan aku bila harus membabatnya. Bukan karena aku tidak ingin kenangan darimu, tetapi aku tidak mau kematianmu akan disusul oleh kematian-kematian yang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandalu mengangkat tubuh istrinya dan membawanya pulang. &lt;br /&gt;Sekali lagi tidak boleh ada air mata yang menetes, sepahit apa pun kenyataan yang harus dijalani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kediri, 29 Agustus 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Ceblok adalah batang kayu yang ujungnya dilancipi dan berfungsi untuk membuat lubang di dalam tanah sebagai tempat taburan benih. Sementara ceblokan adalah lubang yang dihasilkan oleh ceblok.&lt;br /&gt;• Guludan merupakan gundukan tanah di tengah ladang sebagai tempat kowakan, cerungan di atas guludan yang biasanya sebesar cangkul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Haris Del Hakim, penulis novel dan cerpen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5441675162408452479-5158373235823022241?l=haris-delhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/feeds/5158373235823022241/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5441675162408452479&amp;postID=5158373235823022241&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/5158373235823022241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/5158373235823022241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/2008/06/pernikahan-dua-bulan.html' title='PERNIKAHAN DUA BULAN'/><author><name>Haris Abdul Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11211340568889812710</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-PM2xzdR8dq0/ToBnmZOkboI/AAAAAAAAAGM/YrqTu-r-6GA/s220/Haril%2BDel%2BHakim.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5441675162408452479.post-6625773889183602682</id><published>2008-06-24T20:18:00.000-07:00</published><updated>2011-09-26T05:00:19.197-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Haris del Hakim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Surabaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Forum Sastra Lamongan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Tahi Mata Hitam</title><content type='html'>Haris del Hakim &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran bayi pertama pada usia sepuluh tahun pernikahan merupakan kebahagiaan tak terkira bagi Juragan Kosim. Kekayaan yang melimpah ruah hasil keringat bertahun-tahun tidak akan hilang begitu saja. Sayangnya, kebahagiaan itu belum sempurna. Bayi itu belum pernah menangis sejak lahir. Sebagaimana kata orang, anak itu akan tumbuh dewasa sebagai orang bisu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, setiap pagi Juragan Kosim bangun lebih awal dari sebelumnya. Dia langsung mencumbu anaknya dengan mencubitnya keras-keras. Dia berharap bayi mungil itu menangis. Tetapi, makhluk kecil itu hanya bergerak-gerak sambil mengerutkan pipinya, layaknya anak yang menangis karena kesakitan. Juragan Kosim terus mencubit hingga terlihat kulit yang memerah di beberapa tempat. Setelah itu Juragan Kosim menggendong bayinya keliling kampung. Apa pun keadaannya, bayi itu adalah anak yang lahir dari rahim istrinya. Selama ini orang-orang menganggap dirinya mandul dan bayi itu dengan sendirinya telah membongkar kebohongan mereka. Dia adalah lelaki sehat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, desas-desus di masyarakat bermacam-macam. Sebagian orang mengatakan bayi itu hasil perselingkuhan istri Juragan Kosim dengan Juragan Seno, mitra bisnis Juragan Kosim. Sebagian lagi mengatakan benih Pak Modin. Sebagian lagi mengatakan Juragan Kosim sengaja menyuruh Bondan, satu-satunya sarjana kedokteran di kampung. Dan masih banyak cerita yang menunjukkan bayi itu bukan putra Juragan Kosim. Untungnya, bayi itu hanya mirip dengan ibunya, bagai pinang dibelah dua, sehingga orang-orang tidak bisa membenarkan desas-desus yang beredar di kalangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ketujuh Juragan Kosim mengundang hampir seluruh penduduk dalam acara pemberian nama dan potong rambut bayi. Seusai acara dan semua tamu undangan sudah pulang, tiba-tiba anak Juragan Kosim menangis sekeras-kerasnya. Juragan Kosim hampir melompat kegirangan. Dia merasa bayi itu menolongnya terhindar dari anggapan orang-orang kalau anaknya akan tumbuh dewasa sebagai orang bisu. Dia memanggil kembali tamu-tamu yang pulang untuk membuktikan sendiri kalau anaknya dapat menangis. Beberapa tamu hendak kembali, namun mengurungkan niatnya begitu tercium bau amis seperti darah dan bacin seperti nanah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juragan Kosim menghentikan seruannya. Cuping hidungnya kempas-kempis mencium bau yang semakin lama semakin anyir. Dia mencari-cari dari mana asal bau itu. Cahaya lampu yang terpantul dari dinding berkeramik biru muda tidak banyak membantunya. Juragan Kosim pun merasa lelah dan bermaksud merebahkan bayinya di kamar, di samping istrinya. Istrinya yang berbaring segera menyumbat hidung dan menyuruh suaminya pergi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan lama-lama di sini!” kata istrinya. “Baumu busuk sekali.” &lt;br /&gt;“Ya, ya. Aku sendiri tidak tahu mengapa tiba-tiba ada bau busuk dan membuatku mau muntah seperti ini,” jawab Juragan Kosim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi yang tertidur pulas dalam gendongan bapaknya tiba-tiba menangis lagi, mungkin hendak dibaringkan atau mendengar suara bentakan ibunya. Juragan Kosim mengangkat lagi anaknya, namun pandangannya nanar pada tahi mata yang keluar dari sudut mata anaknya. Tahi mata itu tidak berwarna putih kekuningan layaknya tahi mata, tetapi kehitaman dan mirip lumpur. Seperti menyesali mengapa tidak memperhatikan sejak tadi, dia segera merebahkan anaknya dan menyuruh istrinya untuk menyusui bayi itu. Dia sendiri memeriksa pakaiannya dan melihat tahi mata hitam itu menempel di sana-sini. Ujung telunjuknya mengambil tahi mata itu dan menciumnya, kemudian secepat kilat dia menutup hidung rapat-rapat karena tidak tahan dengan baunya. Dia menyodorkan tahi mata itu ke hidung istrinya seraya mengatakan, “Bau busuk itu berasal dari tahi mata anak kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Juragan Kosim hampir muntah. Suaranya cukup keras hingga mengundang rasa ingin tahu sanak kerabat yang belum pulang. Kepala mereka terjulur di pintu seraya bertanya ada apa dan segera saja Juragan Kosim memijat leher istrinya. Dia tersenyum-senyum, “Istriku tidak apa-apa. Mungkin dia sedang masuk angin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istrinya mengangguk dengan tangan yang berusaha menutupi mulutnya. Kemudian, kepala-kepala di pintu itu pun menghilang. Juragan Kosim cepat-cepat mengganti pakaiannya juga kain gedongan anaknya yang ternodai oleh tahi mata hitam itu. Dia membungkusnya rapat-rapat kemudian menyemprotkan minyak pengharum ruangan dalam bungkusan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita harus menyimpan rahasia ini. Betapa malunya kita bila penduduk tahu hal ini.” kata Juragan Kosim yang disepakati oleh istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, kabar tentang bayi Juragan Kosim bertahi mata lumpur dan berbau tidak sedap segera menyebar ke seluruh penduduk. Padahal, Juragan Kosim sudah berusaha menyimpan rahasia itu dengan tidak lagi mengajak bayinya jalan-jalan pagi keliling kampung. Dia merasa kuatir bayinya tiba-tiba mengeluarkan tahi mata yang menyebarkan bau tidak sedap itu. Begitu pula dengan memandikan bayi. Biasanya sengaja dilakukan di depan rumah, tapi kemudian dipindahkan ke belakang rumah. Hal itu justru membuat orang-orang curiga dan menyirap kabar tentang perubahan kebiasaan Juragan Kosim. Mereka pun berhasil mengorek kabar dari dukun beranak yang memandikan anak Juragan Kosim dan dikuatkan oleh perempuan-perempuan yang bermaksud menjenguk bayi itu, namun dilarang masuk kamar dengan alasan bayinya sedang tidur dan dikuatirkan akan mengganggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan itu berdampak pada usaha Juragan Kosim. Warung makannya yang tidak pernah sepi pembeli berubah menjadi lengang. Para penggarap sawahnya satu persatu mengundurkan diri. Orang-orang pun tidak mau lagi menjual hasil tambak mereka kepadanya. Bahkan, perlahan-lahan orang-orang mulai mengasingkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai usaha telah dilakukan Juragan Kosim untuk menyembuhkan kelainan pada anaknya itu. Puluhan dokter telah dikunjunginya dan hampir semua bersepakat untuk menghiburnya tanpa memberikan sedikit perubahan pada anaknya. Mereka mengatakan tahi mata hitam itu tidak berbahaya dan akan hilang dengan sendirinya saat usia dewasa. Tiga orang dokter spesialis menyarankannya untuk menyerahkan bayinya pada laboratorium kesehatan, karena kejadian itu sangat aneh dan merupakan fenomena baru di bidang kesehatan. Tentu saja Juragan Kosim menolaknya mentah-mentah. Beberapa kiai juga didatanginya. Mereka juga seakan telah bersepakat bahwa di balik tahi mata hitam itu pasti ada hikmahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setahun usia bayi itu dan hampir pula dapat berjalan, tetapi tahi mata hitam berbau itu tidak kunjung hilang. Setiap bangun tidur tahi mata itu sudah meleleh di pipinya. Juragan Kosim sudah kehabisan akal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu,” kata Juragan Kosim pada istrinya. “Aku sudah tidak kuat lagi dengan anak kita. Lama kelamaan kita akan berubah menjadi melarat. Dulu kita mengharap-harapkan kelahirannya semoga membahagiakan kita, tetapi kehadirannya justru menyengsarakan kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Juragan Kosim memperhatikan raut muka suaminya. Ia bertanya, “Lantas kamu mau membuangnya?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juragan Kosim hanya menundukkan pandangan. Pikiran seperti itu pernah terbersit dalam benaknya, namun hingga saat ini dia masih membiarkan dan bahkan merawat bayi itu dengan baik. Apabila dia benar-benar hendak menyingkirkan anak itu, tentu lebih baik dia menyerahkannya pada laboratorium kesehatan. Para polisi tidak akan memburunya sebagai seorang pembunuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, keadaan ekonomi Juragan Kosim semakin parah. Warung makannya tutup. Sawahnya terbengkalai. Usaha jual beli ikan pun tidak berjalan. Tabungannya tidak hanya habis, tetapi berganti tumpukan hutang untuk biaya pengobatan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang hari Juragan Kosim duduk termenung di belakang rumah. Dia hanya memata-matai tanpa menoleh ke arah istrinya yang sedang menuntun anaknya berjalan. Sesekali dia mengusap-usap hidungnya dan istrinya mafhum kalau anaknya sedang mengeluarkan tahi mata. Istrinya pun segera mengeluarkan tissu harum dan menghapus tahi mata itu dari pipi anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu,” kata Juragan Kosim pada istrinya. “Aku tidak tahu apakah aku masih kuat dengan anak kita. Kita sudah berubah menjadi melarat. Dulu kita mengharapkan kelahirannya akan membahagiakan kita, tetapi kehadirannya justru menyengsarakan kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah berapa kali kamu mengatakan kalimat itu?” tanya istrinya. “Telingaku seakan tidak dapat mendengar kata-kata lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juragan Kosim mengeluarkan nafas berat seakan telah memendam ucapannya selama berhari-hari. “Aku akan menyerahkan anak itu ke laboratorium kesehatan. Mudah-mudahan mereka mau menebusnya sejumlah kekayaan yang kita keluarkan untuk membiayainya. Paling sedikit, separuh saja cukup untuk modal usaha kita lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak rela. Aku yakin tahi mata anak kita akan berubah menjadi putih kekuningan, seperti layaknya anak-anak yang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita sudah sering menghibur diri dan kita tidak menemukan buktinya,” bantah suaminya. “Aku tahu kamu pasti tidak rela. Aku pun tidak rela, tapi aku belajar menguatkan hati untuk merelakannya. Kukira kamu bisa berlatih sejak sekarang, sebelum anak itu benar-benar kuserahkan pada laboratorium kesehatan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Juragan Kosim memberi batasan waktu selama setahun lagi. Apabila tidak ada perkembangan yang lebih baik, maka merelakan anak tunggalnya adalah jalan terbaik. Istrinya tidak memberikan pendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun tenggang waktu itu tinggal sebulan lagi. Anak Juragan Kosim, yang sekarang melarat, tidak kunjung lebih baik. Tahi matanya masih hitam dan berbau. Istri Juragan Kosim jatuh sakit memikirkan nasib anaknya, sehingga Juragan Kosim sendiri yang harus memasak di dapur. Saat itulah tangan Juragan Kosim tersayat pisau dan mengeluarkan darah berwarna hitam legam dengan bau menyengat hidung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, september 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5441675162408452479-6625773889183602682?l=haris-delhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/feeds/6625773889183602682/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5441675162408452479&amp;postID=6625773889183602682&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/6625773889183602682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/6625773889183602682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/2008/06/tahi-mata-hitam_24.html' title='Tahi Mata Hitam'/><author><name>Haris Abdul Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11211340568889812710</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-PM2xzdR8dq0/ToBnmZOkboI/AAAAAAAAAGM/YrqTu-r-6GA/s220/Haril%2BDel%2BHakim.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5441675162408452479.post-7013095735596066543</id><published>2008-06-24T20:12:00.000-07:00</published><updated>2011-09-26T04:58:44.332-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Haris del Hakim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Forum Sastra Lamongan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Badut Ulang Tahun</title><content type='html'>Haris del Hakim&lt;br /&gt;--Surya, 18 November 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basuki ingin istirahat dari pekerjaannya sebagai anggota dewan wakil rakyat. Dia jemu dengan kerja rapat setiap hari. Lagipula, sebentar lagi adalah pemilihan presiden yang akan menguras banyak tenaga dan pikiran. Karena itu, dia minta izin cuti seminggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama masa cuti Basuki berniat membantu istrinya yang bekerja sebagai penyedia jasa badut ulang tahun. Dia ingin lain dari kebiasaan teman-temannya sesama anggota dewan. Mereka cuti dari kewajiban dengan pergi ke luar negeri atau tempat-tempat wisata daerah lain dengan alasan studi banding, investigasi, dan lain-lain yang dianggap logis. Basuki selalu menolak bila diajak serta dalam kegiatan seperti itu dan mengembalikan tunjangan untuknya. Sehingga, di kalangan teman-temannya Basuki dikenal sebagai orang yang jujur dan lugu.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri dan keluarga Basuki sangat senang. Mereka merasakan lagi kebersamaan sebagai keluarga yang dilindas oleh kesibukan Basuki. Istri Basuki lebih senang lagi. Akhir-akhir ini dia mendapat pesanan badut dari beberapa rumah mewah dan hotel, namun semua dibatalkan karena mereka minta maskot perusahaannya sedangkan maskotnya sendiri adalah Basuki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, jasa penyedia badut itu adalah milik Basuki. Awalnya hanya pekerjaan iseng seorang yang di-phk, namun beberapa pengguna jasa badut merasa puas dan sering menggunakan jasanya meskipun bukan pada momentum ulang tahun. Dalam beberapa tahun usaha iseng itu pun berubah menjadi CV yang keberadaannya diperhitungkan di kalangan para even organizer. Memang, pada dasarnya Basuki adalah seorang tukang lawak dan jenaka, sehingga menjadi badut merupakan kerja yang sesuai dengan karakternya. Akhir-akhir ini saja Basuki lebih banyak menunjukkan raut muka berkerut, sejak dia terpilih sebagai wakil rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hari masa cuti ada permintaan badut pada hari itu juga. Istri Basuki rupanya sudah menunggu kesempatan itu. Dia kangen melihat suaminya dengan wajah berlepotan make up, bibir yang dibuat sedemikian lebar, baju kedodoran, sepatu lars tinggi. Maka, dia segera menodong suaminya berperan sebagai badut. Basuki tentu menolak. Dia sekarang sudah menjadi anggota dewan dan badut adalah profesi lama yang tidak perlu diulangi lagi. Istrinya merayu bahwa dia bukan anggota dewan lagi, sebab dia sedang cuti. Basuki bersikukuh dia tetap anggota dewan meskipun sedang cuti. Istri Basuki terus merayu dan hampir sejam mereka berdebat. Akhirnya, Basuki mengalah pada waktu. Persiapan sebagai badut tinggal dua jam dan menghubungi para anak pekerja badut untuk waktu yang mepet sangat sulit; sebagian besar pekerja badut adalah kerja sampingan saja di waktu longgar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, Basuki masih tetap seorang badut. Dia bergerak lincah ke sana kemari, menyapa setiap yang datang dengan gerakan tangan melambai, bibir bergerak lebar-lebar, raut muka yang lucu disertai anggukan, dan perut yang ditonjolkan ke depan. Banyak anak yang dibuatnya terpingkal-pingkal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Basuki menyatakan kepuasan atas kebadutan suaminya. Dia juga mengatakan kalau pelanggan baru itu juga merasa puas dan berjanji akan merekomendasikan badutnya setiap ada acara di tempatnya. Janji rekomendasi badut bukan omong kosong. Tiga hari kemudian ada permintaan badut istimewa, sebab pemesan acara adalah salah seorang anggota dewan yang sedang merayakan ulang tahun anaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basuki menolak dan meminta agar orang lain saja yang berperan sebagai badut, tapi pemesan meminta badut yang kemarin. Perdebatan kembali berlangsung dan Basuki pun bersedia dengan syarat make up wajahnya dipertebal dari biasanya. Dia tidak ingin perannya sebagai badut ketahuan temannya. Lebih penting lagi, dia belum mengenal siapa temannya itu; apakah dia teman separtai, sekoalisi, atau sekadar teman sesama anggota dewan. Basuki sendiri sengaja mengubah warna suaranya yang ringan menjadi berat dan menggetarkan udara di tenggorokan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat pintu gedung berlangsungnya acara dibuka, terdengar riuh rendah suara tepukan anak-anak yang menyambut kehadiran badut dan segera mengerumuninya. Basuki mengebas ringan pada tangan anak-anak yang ingin mencubitnya dengan gemas. Matanya melirik ke sana kemari dan melihat anggota dewan itu adalah ketua fraksi musuh politik partainya. Matanya melotot, membuat anak-anak tertawa terbahak, ketika melihat orang yang ada di samping musuh politiknya adalah ketua fraksinya; hanya orang yang sangat akrab bersedia hadir di acara ulang tahun anaknya di tengah kesibukan yang padat. Basuki ingat bagaimana ketua fraksinya bersemangat mencaci maki lawan politiknya dan bersumpah tidak akan bekerjasama selamanya, sebab mereka berbeda prinsip. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya pelanggan baru itu minta badut kembali. Basuki langsung mengatakan tidak. Seperti kemarin, istrinya mencoba merayu tapi Basuki benar-benar tidak mau lagi menjadi badut. Dia bersikukuh pada penolakannya. Istrinya berharap pada detik-detik penentuan suaminya akan berubah pikiran, namun suaminya benar-benar tidak mau lagi menjadi badut. Akhirnya, dia menelepon anak buahnya yang siap menjadi badut sedangkan Basuki sendiri sebagai sopir pengantar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara tersebut ternyata ulang tahun anak ketua fraksinya. Tamu-tamu yang datang sebagian besar adalah tamu yang kemarin juga. Basuki langsung menemui ketua fraksinya dan mengungkapkan selamat ulang tahun kepada putrinya. Ketua fraksinya tampak terkejut sesaat, "Saya tidak menyangka Pak Basuki perhatian dengan keluarga saya, bahkan tahu ulang tahun anak saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basuki menjelaskan kalau kehadirannya sekadar mengantarkan badut yang manajemennya dikelola oleh istrinya. Ketua fraksi lawan politik partainya berseloroh kalau-kalau tunjangannya kurang atau pajak partainya terlalu besar. Basuki segera menyanggahnya. Dan ketua fraksi partai Basuki menjelaskan, "Kamu tahu sendiri kami tidak pernah mau ada kenaikan gaji di tengah penderitaan masyarakat kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah," cibir lawan politiknya. "Kita sama-sama tahu watak politikus. Pada mulanya menolak kemudian menerima dengan senang hati."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya kira ini bukan waktu yang tepat untuk berselisih pendapat?" kata ketua fraksi partai Basuki sambil mempersilakan Basuki dan lawan politiknya untuk mencicipi makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak Basuki," kata ketua fraksi lawan politik partai Basuki dengan nada lebih menyenangkan. "Saya harap perbuatan Pak Basuki ini tidak terulang lagi. Sebagai sesama politisi saya kaget. Apakah tidak ada kegiatan sosial yang lebih bermanfaat bagi masyarakat dan Pak Basuki sendiri selain menjadi badut yang manfaatnya untuk kepentingan Pak Basuki sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anda keliru," sela ketua fraksi partai Basuki. "Perbuatan Pak Basuki ini patut menjadi teladan kita. Dia menunjukkan sikap rendah hati. Meskipun dia sebagai anggota dewan tapi masih mau bekerja yang nilainya kelihatan rendah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basuki paham maksud ketua lawan partai politiknya dan dia juga paham arti lirikan ketua partainya. Lama kelamaan dia merasa tidak enak menjadi bahan pembicaraan. Kemudian dia melihat jam dan mohon pamit sebab dia harus mengantarkan badutnya pulang.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sehari masuk kerja Basuki diminta menemui ketua fraksi. Ada persoalan penting yang harus dibicarakan. Basuki datang, duduk di kursi depan meja, dan menunggu ketua fraksinya menata map-map di mejanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak Basuki pernah berperan sebagai badut?" tanya ketua fraksi memulai pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pernah, bahkan saya adalah maskotnya," jawab Basuki.&lt;br /&gt;Ketua fraksi mengangguk-anggukkan kepala. "Saya memanggil Pak Basuki untuk mencari kebenaran hal itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua fraksi berdehem. "Saya juga diberi wewenang teman-teman partai untuk menyampaikan hal ini kepada Pak Basuki." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Persoalan apa?"&lt;br /&gt;"Pak Basuki diminta untuk mengundurkan diri."&lt;br /&gt;"Alasannya?" tanya Basuki tidak percaya. Dia merasa sengaja dibuat marah dan hal itu dimanfaatkan olehnya. "Apakah menjadi badut harus dipecat sebagai anggota dewan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan," kata ketua fraksi menenangkan. "Kami tidak memecat Pak Basuki. Kami hanya minta Pak Basuki mengundurkan diri. Kami harap Pak Basuki melakukannya dengan senang hati, karena ini demi kepentingan partai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basuki hendak protes kembali, namun ketua fraksi memintanya untuk mendengarkan apa yang akan dikatakannya. "Sejujurnya saya kecewa dengan tindakan Pak Basuki yang mohon cuti hanya sekadar sebagai badut. Saya juga malu dikatakan teman-teman dewan sebagai ketua yang beranggota tidak memiliki kepekaan sosial. Ketika semua anggota dewan sibuk memikirkan persoalan masyarakat, melakukan studi banding, investigasi ke luar negeri, tapi Pak Basuki minta izin cuti hanya menjadi b a d u t. Akan tetapi, Pak Basuki tenang saja. Kami sudah mengatur semua. Sebentar lagi muncul isu Pak Basuki melakukan korupsi. Saat itu Pak Basuki mengundurkan diri dengan pernyataan bahwa atas nama partai kami yang jujur dan berkerakyatan Pak Basuki mengundurkan diri, meskipun belum dinyatakan sebagai terdakwa. Persidangan akan digelar dan menunjukkan bahwa tuduhan itu tidak terbukti dan Pak Basuki bukan koruptor. Hak Pak Basuki kami kembalikan dan kami akan mencalonkan bapak sebagai ketua fraksi. Saya sendiri akan mengundurkan diri sebagai bentuk rasa penyesalan saya memecat Pak Basuki. Serangkaian tindakan ini akan meningkatkan suara partai kita dan menambah posisi tawar partai dalam pemilihan presiden. Saya harap Pak Basuki ikhlas melakukannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basuki tercenung beberapa saat. Dia tidak percaya semua itu terlaksana. Hanya satu yang akan dijalaninya bahwa dia akan dipecat sebagai anggota dewan. Dia mengelus wajahnya dan mencari bedak di sana. Setelah berkali-kali meraba dan tidak menemukan butiran bedak itu dia semakin yakin kalau dia tidak sedang menjadi badut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, juli 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5441675162408452479-7013095735596066543?l=haris-delhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/feeds/7013095735596066543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5441675162408452479&amp;postID=7013095735596066543&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/7013095735596066543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/7013095735596066543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/2008/06/badut-ulang-tahun.html' title='Badut Ulang Tahun'/><author><name>Haris Abdul Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11211340568889812710</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-PM2xzdR8dq0/ToBnmZOkboI/AAAAAAAAAGM/YrqTu-r-6GA/s220/Haril%2BDel%2BHakim.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5441675162408452479.post-8055203655253223356</id><published>2008-06-23T09:43:00.000-07:00</published><updated>2011-09-26T04:56:10.581-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Haris del Hakim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Forum Sastra Lamongan'/><title type='text'>GERAKAN BARU SASTRA LAMONGAN:</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Catatan Singkat atas Forum Sastra Lamongan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Haris del Hakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini tidak hendak merekonstruksi sebuah gerakan secara komprehensif, namun sekadar mengambil salah satu sebuah gerakan halus yang terjadi secara simultan dan dapat disebut sebagai fenomena yang luar biasa. Selain dari itu, tulisan ini tidak menjamah ranah analisa karya yang memerlukan waktu yang panjang dan kajian lebih intens, tapi sekadar ulasan beberapa hal yang dapat dianggap penting.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan sastra Lamongan patut mendapatkan perhatian. Sastrawan yang lahir dari Lamongan ikut mewarnai peta sastra Indonesia, sebut saja nama Satyagraha Hoerip, Djamil Suherman, Abdul Wachid BS, Viddy, Aguk Irawan MN, Mashuri, dll. Di samping itu di Lamongan sendiri sebenarnya nafas sastra telah mengakar kuat, sebagaimana yang pernah disaksikan sendiri oleh Emha Ainun Nadjib pada tahun 80-an. Geliatnya semakin kentara dengan kehadiran Harry Lamongan yang sebenarnya lahir di Bondowoso namun berdomisili di Lamongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama bertahun-tahun Harry Lamongan seperti penjaga gawang sastra. Berbicara tentang sastra di Lamongan, maka referensi utamanya adalah Herry Lamongan. Tentu saja dia tidak sendirian. Dalam Komunitas Sastra dan Teater Lamongan (Kostela) banyak tergabung pegiat-pegiat sastra. Mereka melakukan pergulatan sastra yang diadakan melalui apresiasi bulanan dalam wahana Candrakirana. Sayangnya, hanya seorang Herry yang muncul dalam media massa meskipun dalam beberapa pertemuan dia selalu menegaskan bahwa eksistensi sebuah karya tidak cukup dalam medan apresiasi lokal yang dihadiri oleh orang-orang yang dikenal. Sebuah karya mesti dilepas keluar agar dia menghirup keluasan cakrawala dan bertahan hidup dalam deru badai dan hantaman persepsi banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra pada masa itu, sebagaimana kondisi sastra di tingkat nasional secara umum, bersifat eksklusif. Sastra hanya milik orang-orang yang dianggap dan menganggap dirinya "paham" sastra. Selain mereka hanya bicara tentang kulit. Hal ini tentu tidak mengherankan. Seorang dedengkot sastra pernah menyatakan, selain penyair dilarang bicara tentang puisi. Pernyataan tersebut seakan dogma yang menghegemoni pola pikir semua sastrawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini diperkuat dengan kondisi masa Orde Baru dan kuatnya ajaran-ajaran HB Yassin sebagai paus dan penahbis seseorang dapat disebut sastrawan atau tidak. Maka, kelahiran kritikus-kritikus baru di ujung usia Orde Baru seperti angin segar yang membawa rerintik air dan menumbuhkan benih-benih bakat yang tidak tersentuh oleh tangan dingin sang paus sastra tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Orde Baru tumbang dengan lahirnya Reformasi yang membuka katup-katup ruang berekspresi. Media masa semakin banyak dan beragam dengan suara yang teduh hingga sumbang. Sarana-sarana publikasi menjadi terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin memasukinya. Semua itu mendukung munculnya sastrawan-sastrawan muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terkecuali di Lamongan. Beberapa tahun terakhir geliat sastra Lamongan sangat terasa menonjol dibandingkan sebelumnya. Indikasi tersebut tampak pada beberapa fenomena berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, publikasi karya-karya sastrawan mudanya. Di antara karya-karya tersebut dapat disebutkan; Absurditas Rindu yang diterbitkan secara Indie oleh Sastranesia. Di dalamnya memuat beberapa puisi sastrawan muda baik yang namanya telah terpublikasi di media masa atau tidak. Juga antologi puisi tunggal seperti, Interlude di Remang Malam (puisi AS. Sumbawi), Tamasya Langit (Javed Paul Syatha), Kitab Suci Para Malaikat (Nurel Javissyarqi), Sembah Rindu Sang Kekasih, (Imamudin SA). Ada juga novel Dazedlove karya Rodli TL. dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, berdirinya penerbitan buku-buku sastra. Lamongan memiliki tiga penerbit yang konsentrasi dalam menerbitkan karya sastra: Pustaka Pujangga, Sastranesia, dan Pustaka Ilalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, fenomena tersebut tidak dapat lepas dari keberadaan beberapa orang yang memberikan andil besar dalam perubahan gerakan. Mereka mendirikan Forum Sastra Lamongan. Forum ini terbuka bagi siapa saja yang ingin terlibat, tanpa memandang apakah dia sastrawan atau bukan namun yang penting memiliki rasa simpati terhadap sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang kelahiran forum ini lebih bersifat global. Fenomena hegemoni di tingkat media sudah semakin berbahaya. Sebagai contoh, Bajaj Bajuri di Trans TV pada waktu itu dapat dikatakan sebagai sinetron komedi dengan rating pemirsa yang tinggi, terbukti masih terus diputar meskipun diulang-ulang. Begitu pula dengan OB (Office Boy) di RCTI. Kedua sitkom itu bersetting budaya Betawi. Karakter orang Betawi selalu menang sendiri dan tak terkalahkan, berseberangan dengan karakter orang Jawa yang selalu naif (istilah Jawa bagi orang Betawi adalah penduduk Jawa selain mereka). Dalam Bajaj Bajuri ada tokoh Emak Etti yang cerdik dan licik berseberangan dengan Mpok Hindun yang kenes dan endel atau Yusuf bin Sanusi sebagai orang Betawi yang paling naif berhadapan dengan Parti yang suka mengalah dan tak berdaya menghadapinya bahkan mau diperistri. Dalam OB tokoh Saodah yang gembrot dan Ismail yang kaku selalu menang berhadapan dengan Sayuti yang Jawa yang lamban dan tidak cerdas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari latar belakang tersebut kemudian muncul inisiatif untuk melakukan gerilya budaya di tingkat local atau daerah. Budaya-budaya lokal yang selama ini tergerus oleh budaya pembangunanisme Orde Baru coba digali dan dikaji ulang. Meskipun budaya lokal, namun lebih mengedepankan pada keterbukaan, asimilasi, atau akulturasi dengan budaya lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penjembatan harapan tersebut, Forum Sastra Lamongan (FSL) menerbitkan Jurnal Kebudayaan The Sandour yang mewakili ekspresi sastrawan mapan tingkat nasional. Jurnal ini terbit sekali dalam tiga bulan dengan memuat tulisan berbentuk puisi, esei, artikel, cerpen, atau monolog. Sedangkan bagi kalangan remaja yang berminat terhadap sastra diterbitkan Jurnal Sastra Timur Jauh. Sementara bagi kalangan masyarakat umum diterbitkan majalah Gerbang Massa yang berusia sekali terbit setelah itu tidak ada kabarnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain dari itu, sebagai bukti penghargaan Forum terhadap generasi muda maka Forum menganugerahkan Van Der Wijk Award untuk remaja-remaja yang berkarya dan berkualitas. Sementara kegiatan instrumen berupa bedah buku atau launching yang diadakan di sekolah-sekolah: Madrasah Aliyah Negeri Lamongan, Madrasah Aliyah Simo Sungelebak, dan Pondok Pesantren Karangasem Paciran. Pada saat itu menghadirkan Raudal Tanjung Banua dan Ida Idris sebagai pembicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Forum Sastra Lamongan muncul Sastranesia yang dibidani oleh AS. Sumbawi dkk. Akan tetapi, nama tersebut bermetamorfosa menjadi penerbit buku-buku sastra. Ruang lingkup Sastranesia sendiri hamper dapat dikatakan saling jalin dengan Forum Sastra Lamongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan-gerakan sastra tersebut tidak lepas dari peran para sastrawan mudanya. Beberapa nama yang dapat disebutkan adalah Nurel Javissyarqi, Rodli TL, AS. Sumbawi, Javed Paul Syatha, Imamudin SA, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurel Javissyarqi. Sastrawan muda paling produktif ini—saat ini telah menulis 13 buku di samping menulis di berbagai media dan jurnal—lahir di Lamongan. Jiwa susastranya digembleng di Yogyakarta bersama dengan Y. Wibowo, Muhaimin Azzet, dll. dalam bendera KSTI (Komunitas Sastra Tugu Indonesia). Semangatnya yang besar menemukan muara di kampung kelahirannya dan mendirikan penerbit PUstaka puJAngga yang menerbitkan karya-karya sastra, baik sastrawan lokal maupun nasional. Karya terakhirnya adalah Kitab Para Malaikat (PUstaka puJAngga: 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rodli TL. Dia menemukan jiwa seninya di Jember dan bahkan pernah dipercaya sebagai Ketuanya. Beberapa kali dia menulis naskah sekaligus menyutradarai, di antaranya Adam Hawa. Kesibukannya sangat padat di bidang pendidikan dengan Sanggar Bahasa Kampung yang mendidik anak-anak kecil di desanya untuk memahami bahasa dan sastra. Di samping itu dia seorang dosen Universitas Darul Ulum Lamongan yang dipercaya menjadi pembimbing komunitas STNK (Studi Teater Nafas Kata), salah satu lembaga mahasiswa di bidang kesenian di samping Teater Roda. Pergulatannya dalam sastra dibuktikan dengan terbitnya novel Dazedlove.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AS. Sumbawi. Alumni IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini memulai pergulatannya di bidang sastra ketika bergabung dengan Sanggar Suto dan Sanggar Nuun. Saat ini dia menjadi pengajar sekaligus pemilik penerbitan Sastranesia. Tulisan-tulisannya banyak menghiasi media massa dan tergabung dalam antologi bersama, seperti: Dian Sastro for President: End of Trilogy (Insist: 2005), Malsasa 2005 (FSB: 2006), Sepasang Bekicot Muda (Buku Laela: 2006), dan Khianat Waktu (DKL: 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Javed Paul Syatha. Dia menggeluti sastra dengan bergumul bersama sastrawan-sastrawan lokal Lamongan. Dia memiliki nama-nama lain, seperti Saiful Anam, Ifoel Moenzoek, dan terakhir Javed Paul Syatha. Sehari-hari sebagai pengajar dan membimbing komunitas AUM. Beberapa karyanya tercatat dalam Malsasa 2005 (FBS: 2005), Khianat Waktu (DKL: 2006), Pelayaran Bunga (DKJT: 2007), dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imamudin SA. Sastrawan muda ini murni berjiwa Lamongan, tidak terbaur dengan dunia luar dan banyak berkarya melalui media lokal. Di antara karyanya termuat dalam Lanskap Telunjuk (DKL: 2004), Khianat Waktu (DKL: 2004), dan beberapa antologi tunggalnya. Saat ini dia menjadi koordinator kajian Candrakirana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain nama-nama tersebut masih banyak lagi sastrawan muda yang memiliki gairah sastra luar biasa: Ariandalu, Heri Listianto, Anis CH, D. Zaini Ahmad, dan masih banyak yang lain dari kalangan generasi muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan singkat di atas ada beberapa nama yang berproses kreatif dengan bersinggungan bersama dunia luar. Mereka menjalin pola relasi dengan sastrawan-sastrawan dari daerah lain atau sastrawan nasional sekalipun. Di antaranya adalah kehadiran beberapa tokoh sastrawan nasional ke daerah Lamongan, seperti Raudal Tanjung Banua, Abdul Aziz Soekarno, Joni Ariadinata, Mardiluhung, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan baru ini dapat dikatakan masih seumur jagung. Di masa depan ada tantangan-tantangan berupa keberlanjutan eksistensial dan esensial. Secara eksistensial adalah konsistensi gerakan yang mengarah pada pengembangan sastra, sedangkan secara esensial adalah bentuk karya yang dihasilkan apakah berkualitas sastra atau sekadar euporia pada kesenangan baru. Persoalan ini sepenuhnya tergantung pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;___________________________&lt;br /&gt;*) Haris del Hakim, penulis cerpen kelahiran Lamongan. Sekarang tinggal di Surabaya. Beberapa tahun tinggal di Yogyakarta kemudian pulang dan bergumul dengan sastrawan-sastrawan Lamongan hampir selama dua tahun. Sebagai anggota FSL &amp; dewan redaksi Jurnal Kebudayaan The Sandour&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5441675162408452479-8055203655253223356?l=haris-delhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/feeds/8055203655253223356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5441675162408452479&amp;postID=8055203655253223356&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/8055203655253223356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5441675162408452479/posts/default/8055203655253223356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://haris-delhakim.blogspot.com/2008/06/gerakan-baru-sastra-lamongan_23.html' title='GERAKAN BARU SASTRA LAMONGAN:'/><author><name>Haris Abdul Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11211340568889812710</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-PM2xzdR8dq0/ToBnmZOkboI/AAAAAAAAAGM/YrqTu-r-6GA/s220/Haril%2BDel%2BHakim.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
